57 Persen Gen Z Lebih Minat 'Side Hustle' Daripada Jabatan Tinggi

  • 19 Feb 2026 21:00 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon - Sebuah pergeseran budaya kerja yang signifikan tengah terjadi di kalangan Generasi Z (Gen Z). Laporan terbaru mengungkapkan bahwa sekitar 57 persen dari kelompok usia ini kini lebih memprioritaskan pengembangan usaha sampingan atau side hustle dibandingkan harus bersusah payah memanjat tangga karier korporat demi jabatan tinggi.

Bagi mereka, gelar manajer atau direktur tidak lagi semenarik fleksibilitas waktu dan diversifikasi pendapatan yang ditawarkan. Tren ini menunjukkan bahwa ambisi tradisional mulai memudar dan digantikan oleh keinginan untuk memiliki kontrol penuh atas hidup mereka.

Gen Z melihat bahwa jabatan tinggi sering kali dibarengi dengan tingkat stres yang luar biasa, jam kerja yang tidak manusiawi, dan tanggung jawab yang menguras energi mental. Sebaliknya, memiliki side hustle —mulai dari konten kreator hingga bisnis e-commerce kecil-kecilan— memberikan rasa kepemilikan dan kepuasan kreatif yang sulit ditemukan di balik meja kantor.

Faktor ketidakpastian ekonomi global juga menjadi pendorong utama mengapa satu sumber pendapatan tidak lagi dianggap cukup. Dengan bayang-bayang PHK yang bisa terjadi kapan saja, Gen Z merasa lebih aman secara finansial jika mereka memiliki "keran" uang lain yang bisa diandalkan.

Strategi ini dianggap lebih rasional daripada memberikan loyalitas buta kepada satu perusahaan selama berpuluh-puluh tahun demi janji promosi yang belum tentu terwujud. Selain itu, kemudahan teknologi menjadi katalisator yang mempercepat fenomena ini.

Platform digital memungkinkan anak muda untuk memonetisasi hobi mereka hanya dari ponsel genggam. Hal ini menciptakan standar baru di mana "kesuksesan" tidak lagi diukur dari luasnya ruangan kantor atau banyaknya bawahan, melainkan dari seberapa besar pendapatan yang bisa dihasilkan sambil tetap bisa menikmati kopi di sore hari tanpa gangguan pesan dari atasan.

Dari sisi psikologis, Gen Z sangat menjunjung tinggi keseimbangan kehidupan kerja atau work-life balance. Mereka menyaksikan generasi sebelumnya mengalami kelelahan fisik dan mental demi mengejar posisi prestisius, namun berakhir dengan sedikit waktu untuk keluarga atau diri sendiri.

Paradigma "bekerja untuk hidup" kini jauh lebih populer daripada "hidup untuk bekerja", yang membuat tawaran kenaikan jabatan sering kali ditolak jika harus mengorbankan kesehatan mental. Para pakar sumber daya manusia (HR) kini mulai memutar otak menghadapi fenomena ini, karena retensi karyawan menjadi semakin menantang.

Perusahaan tidak bisa lagi hanya menawarkan iming-iming kenaikan pangkat untuk memotivasi pekerja muda. Perlu ada pendekatan baru, seperti jam kerja yang lebih fleksibel atau kebijakan yang mendukung karyawan untuk tetap bisa menjalankan passion pribadi mereka di luar kantor agar tetap merasa betah dan dihargai.

Pada akhirnya, fenomena ini menegaskan bahwa definisi "mapan" telah berevolusi. Bagi 57 persen Gen Z, menjadi bos bagi diri sendiri melalui berbagai lini usaha kecil jauh lebih bergengsi daripada memiliki jabatan mentereng di perusahaan besar namun kehilangan kendali atas waktu sendiri.

Masa depan dunia kerja tampaknya akan semakin didominasi oleh individu-individu "multi-talenta" yang tidak lagi terpaku pada satu deskripsi pekerjaan yang kaku.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....