Jeremy Huang Wijaya: Hujan Jelang Imlek Sarat Makna
- 05 Feb 2026 15:07 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon – Dalam tradisi dan kepercayaan masyarakat Tionghoa, hujan yang turun menjelang atau tepat saat perayaan Imlek bukan sekadar faktor cuaca, melainkan simbol yang sarat makna. Ada tradisi fenomena alam, yang selalu berulang terjadi setiap tahun di Bulan Januari-Februari yaitu curah hujan dan gelombang tinggi menjelang Imlek.
Oleh sebab itu terjadi mitos bahwa jika hujan satu hari menjelang tahun baru Imlek maka tahun berikutnya akan banyak rejeki. Tanggal 17 Februari 2026 nanti adalah perayaan tahun baru Imlek 2577 Kong Zi Li, tahunnya dihitung berdasarkan tahun kelahiran Kong Hu Cu.
Budayawan Tionghoa Jeremy Huang Wijaya mengatakan bahwa fenomena alam seperti hujan jelang imlek juga tidak lepas dari sejarah dan mitosnya.
"Tahun baru Imlek adalah tahun menyambut musim semi, awal musim tanam, ada yang mengatakan tahun baru Imlek adalah tahun baru para petani di Tiongkok China, karena awal tahun baru Imlek adalah masa persiapan para petani untuk musim tanam. Oleh sebab itu kenapa sebelum tahun baru Imlek selalu hujan, karena awal musim tanam,” ujar Jeremy kepada RRI, Selasa, 3 Februari 2026.
Imlek biasanya jatuh di antara akhir Januari hingga Februari dan di Indonesia, periode ini memang merupakan puncak musim hujan. Secara meteorologis, fenomena ini terjadi karena angin muson barat yang membawa banyak uap air ke wilayah Asia Tenggara.
Lantas kenapa turunnya hujan sebelum Imlek dianggap sebagai hoki? Jeremy mengatakan turunnya hujan membuat tanah jadi subur sehingga bisa dicangkul dan digemburkan sehingga biji-bijian padi dan palawija dapat tumbuh.
“Warga Tionghoa percaya Rejeki seseorang di tahun baru Imlek di hitung berdasarkan Hong shui, Feng shui dan tahun kelahirannya. 5 elemen yang selalu berganti setiap 2 tahun sekali yaitu air, tanah, api, kayu dan logam. Jadi hujan menjelang Imlek berhubungan dengan awal musim tanam, perhitungan rejeki seseorang terjadi karena Perhitungan shio dan Hong shui dan Feng shui nya bukan karena hujan dan tidak hujan di malam Imlek,” katanya.
Meskipun secara ilmiah dapat dijelaskan lewat siklus cuaca, secara kultural, hujan tetap menjadi "penghias" yang dinanti karena memberikan rasa optimis bagi mereka yang merayakannya. Hujan dianggap sebagai cara alam "mencuci" atau membersihkan sisa-sisa kemalangan dari tahun yang lalu.
Air hujan menyapu debu dan kotoran, memberikan awal yang segar dan bersih untuk melangkah ke tahun yang baru. Bagi masyarakat Tionghoa, air adalah simbol rezeki dan kemakmuran.
Hujan yang turun dianggap sebagai tanda bahwa tahun yang baru akan diberkati dengan kelimpahan. Semakin deras hujannya, sering kali dianggap semakin besar pula potensi keberuntungan yang akan datang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....