Video Singkat TikTok: Hiburan atau Ancaman?

  • 19 Nov 2025 09:21 WIB
  •  Cirebon

KBRN, Cirebon: TikTok kini telah menjadi bagian dari kehidupan banyak orang di seluruh dunia sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari mereka. Sejak masa pandemi, aplikasi berbagi video ini berkembang pesat karena mampu memberikan hiburan cepat dan ringan melalui video berdurasi pendek, sekitar 15 hingga 60 detik.

Namun, di balik popularitasnya yang luar biasa, sejumlah penelitian mulai menyoroti sisi lain dari penggunaan TikTok yang berlebihan. Dilansir dari Halodoc, paparan terhadap konten berdurasi singkat dalam waktu lama dapat membuat otak terbiasa dengan rangsangan cepat, sehingga menurunkan kemampuan seseorang untuk fokus dan menikmati konten berdurasi panjang.

Penelitian yang diterbitkan oleh Nature Communications bahkan menemukan bahwa pola konsumsi video singkat yang terus menerus dapat mempersempit rentang perhatian kolektif masyarakat. Fitur “For You Page” (FYP) yang secara otomatis menampilkan video sesuai minat pengguna juga membuat seseorang tanpa sadar menghabiskan waktu berjam-jam untuk menatap layar, mengorbankan waktu tidur, produktivitas, dan interaksi sosial di dunia nyata.

Kecanduan terhadap TikTok sering kali tidak disadari karena aplikasi ini dirancang untuk memberikan kepuasan instan. Pengguna cenderung menggulir layar tanpa henti dan terjebak dalam siklus “penghargaan cepat” yang memicu dopamin di otak. Akibatnya, muncul berbagai gangguan psikologis seperti kecemasan, depresi, gangguan tidur, hingga penurunan harga diri.

Selain itu, kebiasaan menonton TikTok hingga larut malam juga mengganggu ritme tidur alami tubuh dan membuat seseorang sulit berkonsentrasi pada aktivitas penting di siang hari. Meski demikian, TikTok tidak sepenuhnya memberikan dampak negatif.

Di sisi positif, platform ini juga menjadi sarana bagi banyak orang untuk mengekspresikan diri dan menemukan dukungan sosial. Tidak sedikit pengguna yang memanfaatkan TikTok untuk berbagi pengalaman, mencari komunitas yang memiliki minat serupa, bahkan mendapatkan informasi edukatif, termasuk seputar kesehatan mental.

Beberapa profesional kesehatan mental juga memanfaatkan platform ini untuk menyebarkan pengetahuan dengan cara yang ringan dan mudah dipahami. Salah satunya adalah Kojo Sarfo, MD, seorang psikiater yang aktif memberikan edukasi tentang kesehatan jiwa kepada jutaan pengikutnya.

TikTok pun kini menyediakan fitur “Kesejahteraan Digital” untuk membantu pengguna mengatur waktu layar dan membatasi konten yang mungkin tidak sesuai. Agar penggunaan TikTok tetap sehat, penting bagi pengguna untuk memiliki batasan yang jelas.

Mengatur waktu penggunaan setiap hari, melatih kesadaran diri (mindfulness) sebelum membuka aplikasi, dan mengganti kebiasaan menonton video dengan aktivitas dunia nyata seperti membaca, berolahraga, atau belajar hal baru dapat membantu menjaga keseimbangan. Jika kecanduan sudah mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental dapat menjadi langkah yang tepat.

TikTok memang memberikan hiburan dan ruang kreativitas, tetapi tanpa pengendalian diri, aplikasi ini bisa berubah menjadi ancaman bagi kesehatan otak dan kesejahteraan mental. Pada akhirnya, keseimbangan antara hiburan digital dan kehidupan nyata ada di tangan penggunanya sendiri. (Riska Dwi Cahyani/UCIC)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....