Menguak Makna Totopong, Iket Kepala Kang Dedi Mulyadi

  • 01 Jul 2025 14:58 WIB
  •  Cirebon

KBRN, Cirebon: Belakangan, Totopong atau iket Sunda menjadi populer setelah Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi kerap menggunakannya di setiap aktivitasnya. Hal tersebut nyatanya menuai virus baik bagi warga Jawa Barat. Mengapa demikian? Ya, nyatanya tidak hanya para pegawai ASN (aparatur sipil negara), namun tidak sedikit juga warga sipil yang kemudian mulai tergerak untuk memakai Totopong seperti yang dikenakan KDM alias Kang Dedi Mulyadi.

Apa bedanya Totopong dengan blangkon?

Blangkon adalah penutup kepala tradisional untuk pria Jawa yang terbuat dari kain batik. Bentuknya menyerupai topi tanpa pinggiran yang dipakai menutupi sebagian rambut. Blangkon bukan sekadar aksesori busana, tapi juga memiliki nilai budaya, simbolisme, dan filosofi mendalam yang terkait dengan adat istiadat dan pandangan hidup masyarakat Jawa.

Sedangkan penutup kepala tradisional pria Sunda disebut Iket Sunda atau Totopong. Istilah "iket" adalah kata umum yang berarti "ikat" atau "ikatan", karena cara memakainya adalah dengan mengikatkan kain di kepala. Sedangkan "Totopong" adalah istilah yang lebih spesifik untuk ikat kepala khas Sunda yang sudah berbentuk rapi dan siap pakai.

Berbeda dengan blangkon Jawa yang bentuknya cenderung baku, Iket Sunda memiliki banyak variasi bentuk yang tidak hanya menunjukkan estetika, tetapi juga melambangkan strata sosial, pekerjaan, atau bahkan filosofi hidup. Totopong atau Iket Sunda ternyata bukan lagi sekadar penutup kepala semata, namun lebih dari itu, di dalamnya mengandung makna dan fungsi filosofis serta budaya yang mendalam, menjadikannya simbol penting dalam identitas dan kearifan lokal Sunda.

Setiap lipatan, bentuk, dan bahkan cara pemakaian Iket Sunda membawa pesan dan ajaran hidup:

- Pikiran Jernih dan Fokus: Iket yang melingkar dan menutupi kepala melambangkan harapan agar pemakainya selalu menjaga pikiran tetap jernih, fokus, dan tidak mudah terganggu oleh hal-hal yang tidak penting. Ini juga berarti kemampuan untuk berpikir bijaksana dalam setiap tindakan.

- Keseimbangan dan Harmoni: Lekukan dan lipatan pada iket sering diartikan sebagai representasi dari kerumitan hidup. Namun, bagaimana lipatan tersebut tertata rapi menunjukkan pentingnya menjaga keseimbangan dan harmoni dalam menghadapi setiap tantangan.

- Kerendahan Hati dan Kontrol Diri: Ada beberapa bentuk iket yang memiliki bagian menyerupai "patuk" atau "cula". Filosofi di baliknya sering dikaitkan dengan kontrol diri dan kerendahan hati, di mana seseorang diharapkan tidak menonjolkan diri atau sombong, melainkan selalu ingat untuk merendah.

- Koneksi dengan Alam dan Tuhan: Dalam beberapa kepercayaan Sunda, iket juga melambangkan hubungan spiritual antara manusia dengan alam semesta dan Sang Pencipta. Bentuk-bentuk yang terinspirasi dari alam (seperti "Julang Ngapak" yang menyerupai burung terbang) memperkuat makna ini.

- Pewarisan Nilai Luhur: Mengenakan iket adalah bentuk penghormatan dan pelestarian terhadap nilai-nilai luhur serta adat istiadat yang diwariskan oleh karuhun (leluhur) Sunda. Ini adalah simbol identitas budaya yang kuat.

Beberapa contoh bentuk Totopong atau Iket Sunda yang populer adalah:

- Barangbang Semplak: Bentuknya mirip pelepah kelapa yang jatuh namun masih menempel di pohon. Biasanya digunakan oleh para jawara atau orang yang aktif di lapangan, memberikan sirkulasi udara lebih baik.

- Julang Ngapak: Berbentuk seperti burung yang sedang terbang dengan sayapnya. Sering digunakan oleh tetua adat atau tokoh masyarakat (misalnya Ki Lengser dalam acara pernikahan), melambangkan kebijaksanaan dan pengayoman.

- Parekos Jengkol: Bentuknya menyerupai buah jengkol yang dililit di kepala, dengan ciri khas "patuk" atau "cula" di bagian kening. Konon sering digunakan oleh kaum ningrat atau bangsawan.

- Parekos Nangka: Bentuknya simpel dan praktis, sering dipakai untuk kegiatan sehari-hari atau saat terburu-buru.

- Makutawangsa: Bentuk ini sering dikaitkan dengan filosofi Pancadharma, yaitu lima nilai luhur yang harus dijalankan pemakainya, seperti mengenal asal-usul diri, patuh pada hukum, menuntut ilmu, menjunjung tinggi keesaan Tuhan, dan berbakti kepada bangsa dan negara.

Di masa kini, Totopong atau Iket Sunda juga banyak dimodifikasi menjadi bentuk praktis yang sudah dijahit dan siap pakai, sehingga lebih mudah digunakan oleh masyarakat umum, termasuk sebagai aksesori fesyen yang melestarikan budaya.

Semoga artikel ini bermanfaat.

(Sumber: Tiktok.com)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....