Mengenal Apa itu Avoidant Attachment

  • 10 Jan 2025 08:51 WIB
  •  Cirebon

KBRN, Cirebon: Apakah Anda pernah mengalami suatu kondisi dimana merasa tidak nyaman dengan kedekatan emosional dan fisik, sulit membuka diri serta cenderung menjaga jarak dalam hubungan, bahkan dengan orang terdekat. Bisa jadi itu anda tengah mengalami fenomena avoidant attachment. Apa itu avoidant attachment?

Avoidant attachment dalam ilmu psikologi, merupakan salah satu gaya keterikatan (attachment style) yang menggambarkan pola hubungan seseorang dengan orang lain, khususnya dalam konteks kedekatan emosional dan intimasi. Orang dengan avoidant attachment cenderung merasa tidak nyaman dengan keintiman dan kedekatan emosional, lebih memilih kemandirian, dan seringkali kesulitan membangun hubungan yang mendalam.

Pada Teori keterikatan (attachment theory) dikembangkan oleh John Bowlby, seorang psikolog asal Inggris, yang menjelaskan bagaimana hubungan awal anak dengan pengasuhnya membentuk pola perilaku dan emosi dalam hubungan interpersonal di kemudian hari. Ada empat gaya keterikatan utama, yaitu:

• Secure attachment (Keterikatan Aman): Individu merasa nyaman dengan keintiman dan kemandirian.

• Anxious-preoccupied attachment (Keterikatan Cemas-Preokupasi): Individu sangat menginginkan keintiman, tetapi sering merasa khawatir ditolak.

• Dismissive-avoidant attachment (Keterikatan Menghindar-Menolak): Individu menghindari keintiman dan mengutamakan kemandirian.

• Fearful-avoidant attachment (Keterikatan Menghindar-Ketakutan): Individu menginginkan keintiman, tetapi juga takut ditolak, sehingga cenderung menghindar.

Lantas apa yang menjadi penyebab avoidant attachment?

1. Pengalaman masa kecil: Pola asuh yang tidak responsif, kurangnya kasih sayang, atau pengalaman traumatis di masa kecil dapat berkontribusi pada perkembangan avoidant attachment. Anak-anak yang kebutuhan emosionalnya diabaikan atau ditolak cenderung belajar untuk mengandalkan diri sendiri dan menghindari ketergantungan pada orang lain.

2. Pola hubungan di masa lalu: Pengalaman hubungan yang menyakitkan atau mengecewakan di masa lalu juga dapat memperkuat pola avoidant attachment. Apakah avoidant attachment bisa diatasi? Tentu saja bisa, yakni dengan cara meningkatkan kesadaran diri dan usaha yang konsisten, serta beberapa langkah lainnya, seperti:

• Terapi:

Terapi dengan psikolog atau terapis dapat membantu mengidentifikasi akar masalah dan mengembangkan strategi untuk membangun hubungan yang lebih sehat.

• Kesadaran diri:

Memahami pola perilaku dan emosi sendiri, serta dampaknya pada hubungan.

• Komunikasi yang terbuka:

Belajar untuk berkomunikasi secara terbuka dan jujur tentang perasaan dan kebutuhan.

• Membangun kepercayaan: Perlahan-lahan belajar untuk mempercayai dan bergantung pada orang lain.

Penting untuk dipahami pula bahwa melakukan perubahan tentu membutuhkan waktu dan kesabaran yang tinggi. Dengan usaha yang tepat, seseorang dengan avoidant attachment dapat belajar untuk membangun hubungan yang lebih sehat dan memuaskan.

(Sumber: gemini.google.com)


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....