Pengurangan Emisi PLTP Gunung Salak Dimonetisasi Jadi Aset Karbon
- 05 Sep 2026 21:30 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon - PT PLN Indonesia Power mengoptimalkan potensi energi bersih melalui pengembangan aset karbon dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Salak. Langkah ini menjadi bagian dari upaya perusahaan menghadirkan nilai tambah dari pengurangan emisi sekaligus mendukung keberlanjutan energi baru terbarukan.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui penandatanganan addendum kedua Emission Reduction Purchase Agreement untuk proyek penambahan kapasitas PLTP Gunung Salak, Rabu, 2 September 2026. Penandatanganan dilakukan dalam rangkaian INDOEBTKE CONEX 2026 di JIEXPO Kemayoran, Jakarta.
Rangkaian acara tersebut dibuka resmi oleh Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung. Acara tersebut turut dihadiri Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiani Dewi, Ketua Umum Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) Norman Ginting, serta berbagai pemangku kepentingan dan akademisi yang memiliki perhatian terhadap pengembangan energi bersih dan transisi energi di Indonesia.
Dalam pembukaan, Yuliot Tanjung menegaskan pentingnya percepatan transisi energi di tengah dinamika geopolitik global. "Dinamika geopolitik global menunjukkan bahwa ketersediaan energi menjadi tantangan yang harus diantisipasi bersama. Karena itu, Indonesia perlu terus mendorong kemandirian dan swasembada energi melalui peningkatan pasokan, pembangunan infrastruktur, serta percepatan transisi menuju energi yang lebih bersih dan berkelanjutan," ujar Yuliot.
Kerja sama penandatanganan ini diwakili Direktur Pengembangan Bisnis dan Niaga PLN IP Julita Indah serta perwakilan South Pole AG Fadri Mokolintad. Kolaborasi ini melanjutkan pengembangan aset karbon dari peningkatan kapasitas PLTP Gunung Salak agar dapat dimonetisasi dan diperdagangkan.
Direktur Utama PLN Indonesia Power Bernadus Sudarmanta menegaskan pengembangan aset karbon menjadi peluang penciptaan nilai tambah operasional. “Pengembangan energi baru terbarukan tidak hanya berbicara mengenai penyediaan energi yang lebih bersih, tetapi juga bagaimana setiap potensi pengurangan emisi dapat dikelola menjadi nilai tambah yang berkelanjutan. Melalui pengembangan aset karbon dari PLTP Gunung Salak, kami melihat adanya peluang untuk menciptakan nilai ekonomi sekaligus mendorong keberlanjutan pengembangan energi panas bumi di Indonesia,” kata Bernadus menegaskan.
Ia menambahkan panas bumi memiliki potensi besar sebagai sumber energi bersih yang andal di Indonesia. Pihaknya terus mendorong inisiatif yang meningkatkan kinerja aset pembangkit sekaligus membuka peluang nilai tambah dari aspek lingkungan.
Melalui monetisasi aset karbon, pengurangan emisi yang dihasilkan dapat memiliki nilai ekonomi serta memberikan insentif investasi sektor energi bersih. PLN IP pun berkomitmen terus menjalankan berbagai inisiatif pengembangan energi terbarukan guna mendukung transisi energi secara berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....