Surili Jawa Terancam Punah, Primata Pemakan Daun Jadi Penjaga Hutan Gunung Ciremai

  • 04 Sep 2026 20:50 WIB
  •  Cirebon
Poin Utama
  • Surili Jawa (Presbytis comata) adalah primata endemik Jawa bagian barat yang hidup di Taman Nasional Gunung Ciremai dan memiliki peran ekologis penting dalam ekosistem hutan.
  • Kebiasaan makan Surili Jawa terhadap pucuk dan daun muda menjadikannya bagian integral dalam rantai kehidupan hutan dan berkontribusi pada regenerasi vegetasi.
  • Surili Jawa ditetapkan sebagai keystone species atau spesies kunci karena ketergantungannya terhadap sumber makanan spesifik dan pengaruhnya yang signifikan pada keseimbangan ekosistem hutan.

RRI.CO.ID, Kuningan - Pucuk-pucuk daun di hutan Taman Nasional Gunung Ciremai boleh jadi tampak sebagai santapan biasa bagi Surili Jawa (Presbytis comata). Namun, dari kebiasaan makan itulah primata endemik Jawa bagian barat ini ikut memainkan peran penting dalam menjaga regenerasi vegetasi dan keseimbangan ekosistem hutan.

Bukan tanpa alasan Surili Jawa disebut sebagai keystone species atau spesies kunci. Ketergantungan satwa ini terhadap pucuk dan daun muda menjadikannya bagian penting dalam rantai kehidupan hutan.

Humas Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Eska Nata Suryana, menjelaskan sekitar 90 persen makanan Surili berasal dari pucuk daun. "Surili dijadikan indikator spesies kunci karena makanannya dominan pucuk daun, sekitar 90 persen. Jadi yang membuat generasi hutan tetap sehat itu adalah surili," ucapnya, di Balai Taman Nasional Gunung Ciremai, pada Jumat, 4 September 2026.

Baca juga: Elang Jawa Kembali Menetas, Kado Kemerdekaan dari Alam Indonesia

Aktivitas memakan pucuk daun muda tersebut secara alami mendorong tumbuhan untuk kembali bertunas. Proses inilah yang turut menjaga regenerasi vegetasi dan keberlangsungan tajuk hutan.

Namun, peran besar Surili Jawa di ekosistem berbanding terbalik dengan kondisi konservasinya. Satwa ini dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa serta masuk dalam kategori Endangered atau terancam punah dalam Daftar Merah IUCN.

Surili merupakan nama dalam bahasa Indonesia dan Sunda untuk menyebut primata pemakan daun yang penyebarannya terbatas di Pulau Jawa bagian barat. Satwa ini termasuk keluarga Cercopithecidae dari genus Presbytis.

Secara fisik, Surili Jawa memiliki tubuh berukuran sedang hingga besar dengan bulu abu-abu yang menutupi hampir seluruh bagian tubuh. Bagian dadanya berwarna putih, sementara rambut di tubuhnya cukup panjang dan tebal.

Ciri lainnya terlihat pada bagian kepala yang memiliki jambul berujung runcing. Alisnya tampak meremang dan kaku mengarah ke depan, menjadi salah satu karakter yang membedakannya dari jenis primata lain.

Di kawasan TNGC, Surili Jawa aktif bermain dan mencari pakan, baik di dalam maupun di sekitar kawasan hutan. Jenis tumbuhan yang menjadi sumber pakan antara lain kaliandra, pakis, kondang, alpukat, kopi, beunying, bungbuay, nangka, melinjo hingga nangsi.

Surili Jawa hidup secara berkelompok. Umumnya, satu kelompok dipimpin seekor jantan dewasa bersama sejumlah betina dan anak-anaknya.

Berdasarkan pemantauan Balai TNGC di sekitar 24 hingga 30 titik pengamatan, keberadaan Surili terdeteksi mulai dari kawasan dataran rendah hingga zona sub-alpin di atas ketinggian 2.400 meter di atas permukaan laut. Meski mampu ditemukan di berbagai ketinggian, populasi dan kelompok Surili lebih banyak terkonsentrasi di wilayah dataran rendah seperti Ipukan, Cipariuk dan Lambosir.

"Hasil penelitian menunjukkan keberadaan surili paling banyak ada di dataran rendah. Kumpulan kelompoknya besar dan sebarannya banyak, karena di dataran rendah suhu masih memungkinkan dan keanekaragaman pakan melimpah. Semakin ke atas, keanekaragaman pakan berkurang, sehingga ukuran kelompoknya juga semakin sedikit," kata Eska memaparkan.

Baca juga: RTRW Baru Kuningan Buka Ruang Wisata di Lereng Ciremai

Selain memantau populasi dan sebarannya, Balai TNGC kini tengah meneliti profil genetik Surili yang hidup di kawasan Gunung Ciremai. Penelitian itu bukan sekadar upaya mengenali asal-usul satu jenis primata.

Data genetik tersebut akan menjadi pijakan dalam menentukan langkah konservasi, demi memastikan Surili tetap bertahan sekaligus menjaga hutan yang selama ini ikut ditopangnya. Selain itu, memastikan garis keturunan populasi Surili Ciremai di tengah posisi kawasan yang berada di wilayah peralihan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Secara umum, populasi Surili Sunda murni banyak ditemukan di Jawa Barat bagian barat, seperti kawasan Halimun Salak. Sementara di wilayah yang lebih dekat dengan Jawa Tengah, seperti Brebes dan Gunung Slamet, terdapat variasi Surili yang dikenal sebagai rek-rekan dengan karakter warna bulu lebih gelap.

"Kita lagi teliti jalur genetik surili di Ciremai ini masuk ke mana. Apakah betul-betul Sunda murni atau masih ada berkerabat dengan daerah barat Jawa Tengah," kata Eska.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....