Guru Diminta Hindari Stereotip Gender dalam Pembelajaran Anak
- 31 Agt 2026 22:01 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon – Tenaga pendidik perlu meningkatkan kompetensi agar mampu memahami kebutuhan psikologis dan fisik peserta didik tanpa terjebak pada stereotip gender. Pemahaman tersebut dinilai penting untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang aman, adil, dan mendukung perkembangan setiap anak.
Sekretaris Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Universitas Islam Bunga Bangsa Cirebon, Evan Pranawa, M.Pd., mengatakan langkah awal yang perlu dilakukan pendidik adalah memahami peserta didik sebagai individu yang memiliki perkembangan dan kebutuhan berbeda.
“Sebenarnya langkah awalnya itu kita harus bisa mengerti terlebih dahulu terkait dengan murid kita itu sendiri gitu ya. Jadi bukan terkait dengan gender dia, emosionalnya gitu ya, psikologisnya, kognitifnya,” katanya dalam Program Pengarusutamaan Gender - Branda Asta Cita RRI Cirebon edisi Senin, 31 Agustus 2026 .
Menurutnya, pemahaman terhadap perkembangan anak perlu menjadi landasan bagi calon guru dalam menentukan pendekatan pembelajaran. Hal itu termasuk memahami perkembangan kognitif, psikososial, minat, dan bakat peserta didik.
Ia menegaskan pendidik tidak boleh memberikan label berdasarkan jenis kelamin, seperti menganggap anak laki-laki harus selalu kuat dan tidak boleh menangis. “Namun memang beberapa hal yang perlu dihindari dari guru itu sendiri adalah ketika dirinya itu sudah melabeli seorang anak contohnya gitu ya. Laki-laki itu harus kuat gitu ya, tidak boleh menangis gitu ya. Nah, itu yang tidak boleh dilakukan oleh seorang pendidik,” katanya.
Ia juga mengingatkan stereotip dapat membatasi perkembangan potensi anak. Menurutnya, kemampuan dalam bidang tertentu tidak semestinya dikaitkan dengan jenis kelamin.
“Jangan sampai ada kata oh matematika ini ataupun sains ini biasanya diungguli oleh laki-laki tapi tidak dengan perempuan. Itu tuh tidak boleh karena itu akan membatasi perkembangan bagi anak perempuannya gitu,” ujarnya.
Ia menambahkan, guru perlu melihat anak secara utuh dengan memperhatikan minat dan bakat masing-masing. Anak laki-laki maupun perempuan harus memperoleh kesempatan yang sama untuk mengembangkan potensinya.
Ia menilai penghapusan stereotip gender tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah. Keluarga dan lingkungan masyarakat juga memiliki peran dalam membangun pola pikir yang tidak diskriminatif terhadap anak.
“Nah, karena stereotip terkait dengan gender ini bukan tanggung jawab dari sekolah saja gitu, melainkan dari berbagai macam stakeholder seperti itu,” ucapnya.
Ia berharap peningkatan kompetensi tenaga pendidik dapat mendorong lahirnya guru yang lebih responsif terhadap kebutuhan setiap peserta didik. Dengan demikian, gender tidak menjadi batasan bagi anak dalam belajar, berekspresi, maupun mengembangkan minat dan bakatnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....