Budidaya Magot Dinilai Bisa Jadi Solusi Pengolahan Sampah Organik

  • 30 Agt 2026 15:17 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon – Sampah organik yang mendominasi timbulan sampah rumah tangga dinilai memiliki potensi untuk diolah menjadi sumber manfaat melalui budidaya magot. Pemanfaatan tersebut sekaligus dapat mengurangi sampah organik yang berakhir menumpuk dan menimbulkan persoalan lingkungan.

Pegiat Lingkungan dan Praktisi Pengelolaan Sampah dengan Sistem TPS 3R di Kabupaten Cirebon, Khusaeri, mengatakan sekitar 60 hingga 70 persen sampah dari timbulan sampah dapat berupa sampah organik. Kondisi tersebut menurutnya menjadi peluang bagi pengembangan budidaya magot.

“Dari dulu juga sebelum adanya MBG, kalau sampah itu misalkan satu ton, 60 sampai 70 persennya adalah sampah organik. Makanya dengan adanya MBG ini sebenarnya bagi para pembudidaya magot adalah sebuah peluang, karena mencari bahan pakan magot menjadi lebih mudah,” kata Khusaeri dalam program Green Radio RRI Cirebon, Sabtu 22 Agustus 2026.

Ia menjelaskan, sampah organik seperti sisa makanan, sayuran, buah-buahan, dan kulit buah dapat dimanfaatkan sebagai pakan magot. Dengan pengelolaan yang tepat, sampah organik tersebut tidak harus berakhir di tempat pembuangan.

Ia menyebut magot juga memiliki kemampuan menghabiskan sisa makanan dalam waktu relatif singkat. Selain itu, residu dari budidaya magot dapat dimanfaatkan untuk mendukung kesuburan tanaman.

“Magot itu kurang lebih dua sampai tiga hari bisa habis kalau untuk pakan magot. Sisa residu dari kotoran magot itu sendiri juga bagus untuk tanah dan tanaman, seperti tanaman di pot atau tumbuhan lainnya,” ujarnya.

Menurutnya pemanfaatan sampah organik melalui budidaya magot dapat menjadi bagian dari penerapan prinsip TPS 3R. Sampah nonorganik dapat dipilah untuk didaur ulang atau dijual, sedangkan sampah organik dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan magot.

Ia juga menjelaskan bahwa budidaya magot tidak membutuhkan lahan yang luas. Masyarakat yang memiliki keterbatasan lahan tetap dapat mencoba budidaya tersebut di bagian tertentu dari rumah.

“Bagi yang belum punya lahan, cobalah untuk budidaya magot. Sebenarnya tidak membutuhkan tempat luas, cukup ada di sudut-sudut atau pelataran, sehingga masyarakat bisa mencoba mengolah sampah organik dari rumah,” katanya.

Ia menilai pengembangan budidaya magot masih membutuhkan dukungan dan kolaborasi dari berbagai pihak. Menurutnya, pegiat lingkungan, pemerintah daerah, pelaku pengelolaan sampah, serta sektor terkait perlu membangun kerja sama agar potensi ekonomi dari sampah dapat berkembang.

Ia berharap masyarakat mulai melihat sampah tidak hanya sebagai persoalan lingkungan. Sampah, kata dia, dapat menjadi sumber manfaat apabila dipilah dan diolah dengan cara yang tepat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....