Hari Krida Pertanian: Petani Cirebon Keluhkan Saprotan Mahal dan Jalan Rusak

  • 22 Jun 2026 21:20 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon – Petani di Kabupaten Cirebon menilai mahalnya sarana produksi pertanian (saprotan) serta infrastruktur yang belum memadai masih menjadi tantangan utama. Berbagai kendala tersebut dinilai menghambat upaya peningkatan produksi dan pencapaian swasembada pangan nasional.

Hal tersebut disampaikan oleh petani Kabupaten Cirebon, Syahrudin, dalam dialog Cirebon Menyapa di RRI Cirebon pada Senin, 22 Juni 2026. Dalam kesempatan itu, ia membahas berbagai tantangan yang masih dirasakan petani meski pemerintah terus berupaya memperkuat sektor pertanian.

Menurutnya, Hari Krida Pertanian harus menjadi momentum refleksi sekaligus pengingat bagi semua pihak. Ia menegaskan bahwa petani masih membutuhkan dukungan nyata agar mampu menjalankan perannya sebagai penopang ketahanan pangan nasional secara optimal.

“Hari Krida Nasional ini salah satunya adalah hari bersyukur, hari mawas diri, hari darma bakti. Di situlah semangat para petani untuk menopang ketahanan pangan Indonesia walaupun memang masih banyak tantangan di tingkat petani,” ujar Syahrudin.

Ia mengatakan salah satu persoalan yang paling dirasakan petani saat ini adalah tingginya harga saprotan yang berdampak langsung terhadap biaya produksi. Oleh karena itu, diperlukan kemudahan akses dan kebijakan strategis yang dapat membantu meringankan beban para petani.

Selain itu, kondisi infrastruktur pertanian di sejumlah desa dinilai masih kurang memadai dan membutuhkan perhatian lebih serius dari pemerintah. Hal ini sangat penting untuk menunjang kelancaran aktivitas produksi maupun jalur distribusi hasil pertanian para petani.

“Kebutuhan petani kan banyak, di lain kebutuhan saprotan, kemudahan mendapatkan saprotan dan harga paling tidak tidak terlalu mahal. Juga infrastruktur, banyak infrastruktur di desa-desa ini yang hampir tidak bisa dipakai,” kata Syahrudin.

Meski menghadapi berbagai keterbatasan, para petani di Kabupaten Cirebon tetap berupaya menjaga produktivitas mereka. Hal ini dilakukan melalui semangat gotong royong dan kerja sama antarsesama petani dalam mengatasi berbagai persoalan yang muncul di lapangan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....