Kemenag Cirebon Integrasikan Moderasi Beragama dalam Kurikulum Madrasah

  • 18 Jun 2026 14:47 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon – Kantor Kementerian Agama Kabupaten Cirebon terus memperkuat implementasi moderasi beragama di lingkungan madrasah. Upaya tersebut dilakukan melalui integrasi materi moderasi beragama dalam kurikulum serta berbagai kegiatan edukasi bagi peserta didik.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Cirebon, H. Slamet, S.Ag., M.Pd., mengatakan penguatan moderasi beragama menjadi bagian penting dalam membentengi pelajar dari pengaruh paham ekstrem. Program tersebut juga diperkuat melalui kegiatan Lintas Iman Goes to Madrasah yang melibatkan berbagai unsur masyarakat.

Menurutnya, kegiatan lintas iman yang selama ini dilaksanakan tidak hanya bertujuan memperkenalkan keberagaman kepada siswa. Program tersebut juga menjadi sarana menanamkan nilai toleransi dan hidup berdampingan di tengah masyarakat yang majemuk.

“Lintas Iman Goes to Madrasah itu sebetulnya dalam rangka moderasi beragama juga. Supaya hasilnya lebih baik, kita mix dengan tim anti teror dari Densus 88 sehingga pesan yang disampaikan kepada siswa lebih kuat,” ujar Slamet dalam Program Dialog Cirebon Menyapa edisi Senin, 15 Juni 2026.

Selain melalui kegiatan edukatif, materi moderasi beragama juga telah menjadi bagian dari kurikulum pembelajaran di madrasah. Penerapan kurikulum tersebut dilakukan baik di jenjang Madrasah Tsanawiyah maupun Madrasah Aliyah.

H. Slamet menjelaskan penguatan moderasi beragama sudah dimulai sejak peserta didik pertama kali masuk ke lingkungan madrasah. Pada masa pengenalan lingkungan sekolah, para kepala madrasah diwajibkan memberikan materi khusus mengenai moderasi beragama kepada seluruh siswa baru.

Dalam pelaksanaannya, Kementerian Agama menggandeng berbagai tokoh lintas agama sebagai narasumber. Pendeta, romo, kiai, ustaz, serta penyuluh agama dari berbagai keyakinan dihadirkan untuk memberikan pemahaman tentang keberagaman yang ada di Indonesia.

“Awal sekali siswa baru ini wajib mengenal enam agama yang ada di Indonesia. Kami hadirkan penyuluh Muslim dan non-Muslim beserta Densus 88 dalam rangka membentengi mereka sejak awal masuk ke madrasah,” katanya.

Ia menegaskan Indonesia merupakan negara yang memiliki keberagaman agama yang harus dipahami oleh generasi muda. Karena itu, peserta didik perlu dibekali wawasan kebangsaan dan toleransi agar mampu menghormati perbedaan yang ada di sekitarnya.

Melalui berbagai program tersebut, Kementerian Agama Kabupaten Cirebon berharap siswa memiliki pemahaman keagamaan yang moderat dan inklusif. Dengan demikian, mereka tidak mudah terpengaruh oleh paham ekstrem yang bertentangan dengan nilai-nilai kebangsaan dan kerukunan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....