MBG Dinilai Dorong Penyerapan Tenaga Kerja dan Ekonomi Lokal

  • 08 Mei 2026 11:17 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Kuningan - Ketua Paguyuban Mitra Dapur MBG Kabupaten Kuningan H. Udin Kusnaedi menilai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memberikan dampak luas terhadap pertumbuhan ekonomi lokal. Dampak tersebut meliputi penyerapan tenaga kerja, pemberdayaan UMKM, hingga perputaran kebutuhan bahan baku di daerah.

Dalam Dialog Cirebon Menyapa edisi Kamis, 7 Mei 2026, H. Udin menyebut keberadaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menjadi ruang kolaborasi antar-mitra. Menurutnya, langkah tersebut penting agar pelaksanaan program berjalan sesuai standar Badan Gizi Nasional.

H. Udin mengatakan Paguyuban Mitra Dapur MBG Kuningan dibentuk sebagai wadah komunikasi dan koordinasi antar-pelaku program MBG. Forum tersebut juga bertujuan memperkuat silaturahmi sekaligus menjadi sarana saling mengingatkan antar-mitra.

“Jadi kami membentuknya forum mitra MBG di Kabupaten Kuningan ini adalah bagaimana caranya kita bisa bersilaturahmi, kita bisa berdiskusi, kita bisa melaksanakan program ini dengan baik. Itu untuk saling mengingatkan antar mitra,” ujarnya.

Ia menjelaskan pihaknya telah memiliki SPPG yang mulai beroperasi sejak peluncuran program pada Februari 2025. Untuk menjadi mitra MBG, prosesnya dilakukan melalui pendaftaran ke BGN dan melengkapi berbagai persyaratan sesuai standar pemerintah.

Menurut H. Udin, antusiasme masyarakat terhadap program MBG di Kabupaten Kuningan cukup tinggi. Hal tersebut karena manfaat program dapat dirasakan langsung oleh masyarakat dan lingkungan sekitar.

Ia menyebut program MBG tidak hanya berkaitan dengan penyediaan makanan bergizi. Program tersebut juga membuka peluang ekonomi bagi pelaku usaha kecil dan masyarakat sekitar.

“Kalau pandangan saya, program MBG ini manfaatnya juga banyak. Banyak sekali, Pak. Baik itu dari segi penyerapan tenaga kerja, dari pergerakan ekonomi, dan lain sebagainya. Ini menurut saya luar biasa,” katanya.

H. Udin menambahkan setiap SPPG diwajibkan memenuhi ketentuan jumlah tenaga kerja yang telah ditetapkan oleh Badan Gizi Nasional. Dalam satu dapur MBG terdapat sedikitnya 47 pekerja, di luar tenaga akunting, ahli gizi, dan penyedia gizi yang direkrut langsung oleh BGN.

Di sisi lain, ia mengakui pengelolaan dapur MBG memiliki tantangan tersendiri. Tantangan tersebut terutama dalam menjaga kualitas dan ketersediaan bahan baku setiap hari.

Menurutnya, pemilihan bahan baku premium menjadi perhatian utama agar kualitas makanan tetap terjaga. Hal itu dilakukan untuk memastikan makanan yang diberikan kepada penerima manfaat memenuhi standar yang ditetapkan.

“Yang pertama yang sangat terasa tertantang itu, kita harus betul-betul siap dengan ketersediaan bahan baku. Yang kedua, kita juga harus betul-betul memilih grade dari bahan baku itu yang premium,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....