Sejarah Karmapala dan Dampak Tren Pendakian pada Lingkungan

  • 26 Apr 2026 20:14 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon – Pendiri dan Aktivis Relawan Lingkungan Karmapala, Khariri, menceritakan awal berdirinya Karmapala yang berangkat dari hobi sederhana para mahasiswa pecinta alam. Organisasi tersebut lahir pada tahun 2007 dari kesepakatan lima mahasiswa yang memiliki minat yang sama terhadap kegiatan alam bebas.

Awalnya, kelompok tersebut berencana membentuk Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pramuka, namun rencana itu tidak mendapat persetujuan dari pihak terkait. Akhirnya pada September 2007, mereka sepakat mendirikan kelompok pecinta alam yang kemudian diberi nama Karmapala.

Khariri menjelaskan bahwa nama Karmapala sempat mengalami perubahan sebelum akhirnya disepakati seperti sekarang. “Awalnya nama kami Kumala, tetapi dianggap terlalu feminin sehingga akhirnya diganti menjadi Karmapala dan bertahan hingga sekarang,” ujarnya kepada RRI dalam program Green Radio edisi Sabtu, 25 April 2026.

Seiring berjalannya waktu, Karmapala tidak hanya fokus pada kegiatan pendakian gunung, tetapi juga aktif dalam kegiatan sosial lingkungan. Kegiatan yang dilakukan antara lain membersihkan sampah di sekitar pasar hingga kawasan kampus serta melakukan aksi bersih sungai secara rutin.

Selain itu, Karmapala juga aktif memberikan pembinaan kepada anak-anak sekolah dasar melalui kegiatan edukatif. Kegiatan tersebut dikemas dalam bentuk permainan yang bertujuan menanamkan kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya sejak dini.

Khariri juga menilai adanya perubahan perilaku pendaki gunung yang cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir. “Setelah muncul film 5 cm, banyak orang mendaki gunung hanya karena tren tanpa persiapan yang matang sehingga berdampak pada meningkatnya jumlah sampah di gunung,” ucapnya.

Ia menambahkan bahwa pendaki pada masa lalu memiliki kesadaran tinggi terhadap kelestarian lingkungan. Menurutnya, prinsip lama pecinta alam seperti tidak meninggalkan sampah dan menjaga alam harus kembali diterapkan agar kerusakan lingkungan di kawasan gunung dapat diminimalkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....