Limbah Dapur MBG Disulap Jadi Pakan Maggot

  • 04 Mar 2026 13:48 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Kuningan - Persoalan sampah organik dari aktivitas dapur skala besar kerap menjadi beban lingkungan yang tidak sederhana. Namun di Kabupaten Kuningan, kolaborasi antara aktivis lingkungan dan pelaku usaha membuktikan bahwa limbah dapur dapat bertransformasi menjadi sumber ekonomi sekaligus solusi ekologis berkelanjutan.

Ketua Gema Jabar Hejo Kuningan, Daeng Ali, menggagas pengelolaan sampah organik yang dihasilkan dari dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) milik H. Udin Kusnedi, yang juga menjabat sebagai Ketua Paguyuban MBG. Kerja sama tersebut menyasar hulu persoalan sampah melalui metode biokonversi menggunakan larva lalat Black Soldier Fly (BSF) atau maggot.

Menurut Daeng Ali, pemilihan maggot BSF didasarkan pada pertimbangan teknis dan manfaat ekologis yang terukur.

“Secara teknis, satu kilogram maggot mampu mengurai sekitar dua sampai lima kilogram sampah organik dalam waktu 24 jam. Selain itu, metode ini bisa mereduksi volume sampah hingga 80 persen sehingga sangat efektif mengurangi beban angkut ke TPA,” ujar Daeng Ali, pada Rabu, 4 Maret 2026.

Ia menambahkan, maggot kering memiliki kandungan protein kasar sekitar 40–50 persen dan lemak 25–30 persen, sehingga berpotensi menjadi pakan alternatif premium untuk ikan dan unggas.

“Proses penguraiannya juga cepat dan relatif tanpa bau menyengat. Ini berbeda dengan pembusukan alami yang sering menimbulkan persoalan kesehatan lingkungan,” katanya.

Sementara itu, Ketua Paguyuban MBG Kuningan, H. Udin Kusnedi menegaskan kolaborasi dengan Gema Jabar Hejo memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi operasional dapur MBG.

“Dapur MBG kami memproduksi makanan dalam jumlah besar setiap hari. Jika sampahnya hanya dibuang, itu menjadi beban. Tapi dengan bantuan Daeng Ali, limbah ini menjadi pakan maggot yang kemudian bisa dijual atau digunakan untuk peternakan. Ini adalah ekonomi sirkular yang nyata,” ujar H. Udin.

Tak hanya menghasilkan maggot sebagai pakan ternak, sisa hasil penguraian atau kasgot juga dimanfaatkan sebagai pupuk organik berkualitas tinggi. Pupuk tersebut dinilai mampu meningkatkan kegemburan tanah dan produktivitas tanaman petani di Kuningan.

Bagi Daeng Ali, kolaborasi ini merupakan cetak biru pengelolaan sampah mandiri berbasis komunitas yang dapat direplikasi di berbagai titik dapur MBG lainnya.

“Apa yang dilakukan Pak H. Udin Kusnedi adalah teladan bagi pelaku usaha lain. Beliau bertanggung jawab atas limbah yang dihasilkan. Kami dari Gema Jabar Hejo siap mereplikasi sistem ini agar Kuningan benar-benar menjadi kabupaten yang mandiri sampah,” katanya menegaskan.

Sinergi antara pelaku usaha dan aktivis lingkungan ini menunjukkan bahwa sampah organik bukan lagi sekadar residu yang harus dibuang, melainkan bahan baku industri baru yang berpotensi menyerap tenaga kerja lokal sekaligus menjaga kelestarian lingkungan Jawa Barat.

Rekomendasi Berita