Jaga Gizi saat Puasa, Program MBG Kota Cirebon Bebas Menu UPF

  • 25 Feb 2026 10:49 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, CIREBON – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap berjalan selama bulan suci Ramadan dengan sejumlah penyesuaian mekanisme distribusi dan komposisi menu guna menjamin kontinuitas serta efektivitas pemenuhan gizi bagi para penerima manfaat. Kebijakan ini dilakukan untuk memastikan asupan nutrisi anak-anak dan kelompok sasaran lainnya tetap terpenuhi tanpa jeda, meskipun mayoritas penerima manfaat menjalankan ibadah puasa.

Koordinator Satuan Pelayanan Pemenuhan Giz (SPPG) Wilayah Kota Cirebon, Ashar Saputra, S.Pt., menjelaskan bahwa pendistribusian MBG selama Ramadan mengacu pada petunjuk teknis yang telah ditetapkan secara nasional. Ia menyebutkan program untuk satuan pendidikan dan posyandu dilaksanakan mulai 23 Februari hingga 17 Maret mendatang.

“Mengacu ke petunjuk teknis mekanisme pendistribusian di bulan Ramadan, kami serentak dimulai untuk penerima manfaat pendidikan dan Posyandu pada tanggal 23 Februari, sampai di tanggal 17 Maret. Untuk pendistribusiannya, kita tetap sampai ini Senin sampai Sabtu dengan mekanisme penerima manfaat ke pendidikan. Kami menggunakan menu kemasan sehat dalam bungkusan tote bag dan bisa dikonsumsi sampai sore hari berbuka,” ujar Ashar kepada RRI dalam Dialog Cirebon Menyapa edisi, Selasa, 24 Februari 2026.

Ia menambahkan, untuk mekanisme distribusi tidak mengalami perubahan signifikan dari sisi jadwal pengiriman. “Untuk mekanisme distribusiannya tetap, untuk penerima manfaat pendidikan kita tetap dipilih di pagi hari menyelesaikan waktu anak-anak sekolah. Untuk P3-nya, kita menyelesaikan waktu yang disepakati sama kader-kader di posyandu. Sedangkan ada untuk penerima manfaat boarding school atau pesantren, kita bisa mengirimnya di sore hari menjelang berbuka dalam bentuk masak, ompreng siap santap,” ucapnya.

Terkait komposisi gizi, SPPG memastikan kandungan makronutrisi tetap terpenuhi dengan penyesuaian jenis makanan yang lebih aman dikonsumsi saat puasa. Ashar menegaskan pihaknya mengikuti rekomendasi Badan Gizi Nasional (BGN) untuk menghindari produk ultra processed food (UPF) dalam kemasan tertentu.

“Untuk menjaga tetap ada aturan ini, kita direkomendasikan oleh BGN Pusat untuk tidak dianjurkan menggunakan menu kemasan UPF. Jadi lebih ke arah roti, abon, telur asin, susu, ataupun kurma seperti itu,” katanya.

Selain itu, pengawasan terhadap kualitas dan kandungan gizi tetap diperketat agar tidak memicu rasa haus berlebihan maupun gangguan kesehatan selama berpuasa. “Kita tetap pengontrolan dari wilayah, dari kami, dari korwil, untuk menu kita dianjurkan untuk menu-menu yang cepat basi ataupun menu-menu yang UPF. Jadi, kita tetap kandungan gizinya disesuaikan walaupun menu yang dikemasan kering ini lebih sensitif ya Bu ya, karena itemnya sudah jelas bisa dilihat per bijinya, per harganya, tapi kami melihat dari kandungan gizinya, dari kemas dan packagingnya, agar tetap terpenuhi selama bulan Ramadan ini, Ibu,” ujarnya mengungkapkan.

Dari sisi sumber daya manusia, jumlah relawan maupun jadwal kerja tidak mengalami pengurangan selama Ramadan. SPPG tetap mengoperasikan 47 relawan yang dibagi dalam beberapa shift untuk memastikan proses produksi dan distribusi berjalan lancar.

“Untuk sesuai dengan kita pendistribusian di selama bulan Ramadan dari Badan Gizi Nasional, relawan tetap berangkat ya Senin sampai Sabtu dengan kuotanya tetap 47 orang Ibu dengan nanti dibagi per shift untuk per divisi menangani masing-masing pekerjaannya. Jadi tidak mempengaruhi, Alhamdulillahnya Badan Gizi Nasional selama bulan Ramadan tidak mengurangi relawan, pengeluaran ataupun tidak berangkatnya. Jadi Alhamdulillah relawan bisa lebaran, Ibu, dengan berpenghasilan,” ucap Ashar menutup.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....