Pulau Sangalaki, "Suaka Alami Pari Manta, dan Penyu"

  • 11 Jun 2026 13:43 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Berau - Jauh dari hiruk-pikuk modernitas metropolitan, sebuah pulau kecil di ujung utara Kalimantan Timur menawarkan harmoni alam yang memikat. Pulau Sangalaki, yang terletak di kawasan eksotis Kepulauan Derawan, Kabupaten Berau, kini menjelma menjadi benteng pertahanan terakhir bagi kelestarian biota laut Nusantara, sekaligus menjadi surga tersembunyi bagi para pencinta wisata bahari dunia.

Bagi wisatawan yang jenuh dengan destinasi arus utama, Sangalaki menawarkan kemurnian alam yang kontras. Tanpa gedung bertingkat atau gemerlap lampu malam, pulau ini memeluk setiap pengunjung dengan hamparan pasir putih yang halus, pantai yang landai, dan rimbunnya vegetasi hijau yang dihuni satwa endemik seperti elang bondol dan burung gosong filipina. Namun, daya tarik sejati Sangalaki baru dimulai saat matahari perlahan tenggelam di cakrawala.

Jejak Eksavator di Pasir Pantai

Ketika malam menjemput, Pulau Sangalaki berubah menjadi ruang persalinan raksasa bagi penyu hijau Chelonia mydas dan penyu sisik Eretmochelys imbricata. Antara pukul 19.00 hingga 03.00 WITA, reptil-reptil laut purba ini perlahan naik ke daratan, meninggalkan jejak unik di atas pasir yang menyerupai jalur roda ekskavator.

Polisi Hutan dari Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), menyatakan bahwa penyu hijau dan penyu sisik sangat sensitif terhadap cahaya, suara, dan gerakan. Oleh karena itu, ketenangan malam di Sangalaki sangat krusial bagi proses bertelur mereka. Dalam sekali bertelur, seekor penyu mampu mengeluarkan 70 hingga 200 butir telur berukuran bola pingpong dengan cangkang yang lembek.

Telur-telur ini kemudian ditanam di sarang sedalam 50 sentimeter, untuk selanjutnya melewati masa inkubasi alami selama 59 hingga 65 hari. Melalui pusat penangkaran yang dikelola secara ketat, telur-telur tersebut dijaga dari ancaman predator alami demi mendongkrak populasi penyu yang kian terancam punah.

Tarian Manta di Bawah Samudra

Jika daratan Sangalaki dikuasai oleh penyu, maka wilayah perairannya adalah panggung utama bagi pari manta (Manta birostris). Keberadaan plankton yang melimpah di sekitar pulau menjadikan kawasan ini sebagai habitat khusus bagi kawanan ikan pari raksasa tersebut.

Wisatawan yang menyelam dapat menyaksikan langsung bagaimana makhluk anggun berukuran masif ini meliuk-liuk di dalam air dengan gerakan menyerupai tarian bawah laut. Tidak jarang, tarian megah ini juga dapat terlihat dari atas permukaan laut atau pesisir pantai menjelang malam hari.

Bagi pencinta selam dan snorkeling, Sangalaki menyediakan belasan titik selam kedalaman diving spot dengan karakteristik unik masing-masing. Beberapa di antaranya yang tersohor adalah Turtle Town, Coral Gardens, Manta Run, Sherwood Forest, dan Manta Avenue. Di titik-titik ini, penyelam tidak hanya bersua dengan manta, tetapi juga dimanjakan oleh hamparan terumbu karang yang sehat, alga, kerang purba, dan miliaran ikan kecil beraneka warna.

Aksesibilitas dan Panduan Perjalanan

Meskipun lokasinya terpencil—memerlukan waktu sekitar 14 jam perjalanan jika ditempuh dari Kota Samarinda—akses menuju Sangalaki kini relatif lebih terorganisasi. Wisatawan dapat memulai perjalanan udara menuju Bandara Kalimarau di Berau.

Dari bandara, perjalanan dilanjutkan via jalur darat selama dua jam menuju Dermaga Tanjung Batu. Setibanya di Tanjung Batu, pengunjung dapat menyewa *speedboat* dengan tarif berkisar Rp2,5 juta untuk paket tiga hari (kapasitas lima orang) guna menyeberang selama 45 menit menuju Pulau Sangalaki.

Pemerintah daerah setempat menetapkan tiket masuk yang sangat terjangkau, yakni Rp10.000 per orang. Pengelola juga menyediakan fasilitas penunjang yang cukup memadai, mulai dari pondok wisata (cottage) siap sewa, restoran dengan menu laut lokal dan internasional, hingga pusat penyewaan alat selam yang lengkap.

Pulau Sangalaki bukan sekadar destinasi liburan untuk bersenang-senang. Ia adalah ruang edukasi terbuka di mana manusia dapat belajar menghargai rapuhnya sebuah ekosistem. Pulang dari Sangalaki tidak hanya membawa memori visual tentang keindahan alam Kalimantan, melainkan juga sebuah kesadaran baru tentang pentingnya menjaga setiap jengkal kelestarian bumi pertiwi. (NAS/YPA)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....