Madrasah Tanpa Sekat: Kesetaraan Hak, Berilmu dan Berakhlak
- 18 Sep 2026 00:01 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID,Bukittinggi - Kantor Kementerian Agama Kota Bukittinggi terus memperkuat komitmennya dalam menghadirkan pendidikan yang ramah, setara dan tanpa diskriminasi bagi seluruh peserta didik. Komitmen tersebut diwujudkan melalui Pelatihan/Pendidikan Inklusif dengan tema “Madrasah Tanpa Sekat: Ikhtiar Mewujudkan Kesetaraan Hak Belajar Anak Inklusif di Madrasah di Lingkungan Kantor Kementerian Agama Kota Bukittinggi”.
Bertempat di Aula Kantor Kemenag setempat.
Kamis, 17 September 2026.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Bukittinggi, H. Irwan, didampingi Kepala Seksi Pendidikan Madrasah, Aldy Heko Putra, serta Pengawas Madrasah se-Kota Bukittinggi. Hadir sebagai narasumber Tim LPPM UIN Imam Bonjol Padang.

Pelatihan ini diikuti sebanyak 34 peserta yang terdiri dari Kepala MIN Bukittinggi, Wakil Kepala Madrasah bidang kurikulum, serta Guru Pendamping Khusus (GPK) jenjang MI, MTs, dan MA di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kota Bukittinggi.
Dalam arahannya, H. Irwan menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada panitia pelaksana serta Tim LPPM UIN Imam Bonjol Padang yang telah berkontribusi dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.
“Ini merupakan kontribusi yang luar biasa dalam mendukung dan menyukseskan program pendidikan. Kegiatan ini adalah salah satu ikhtiar kita dalam menghadirkan kesetaraan sebagai hak setiap anak untuk memperoleh pendidikan,” ujarnya.
Menurut H. Irwan, pendidikan inklusif bukan sekadar sebuah program, melainkan bagian dari tanggung jawab bersama dalam memastikan setiap anak mendapatkan hak pendidikan secara layak.
“Kita memiliki komitmen untuk memberikan dan menunaikan hak anak dalam memperoleh pendidikan. Karena itu, menjadi tanggung jawab kita semua untuk memberikan ruang dan perhatian yang sama kepada anak-anak, sehingga mereka sama-sama memperoleh pendidikan yang layak. Artinya, tidak boleh ada diskriminasi terhadap anak,” tegasnya.
Ia menekankan, keberadaan guru memiliki peran strategis dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif. Seorang guru, katanya, tidak cukup hanya memiliki kemampuan dalam menyampaikan materi pembelajaran, tetapi juga harus mampu memahami latar belakang, karakter, kebutuhan, serta perbedaan setiap peserta didik.
“Seorang guru harus memiliki kompetensi dalam mentransfer ilmu dengan memahami latar belakang serta perbedaan dari anak yang di didiknya. Setiap anak memiliki karakter dan kebutuhan yang berbeda, dan perbedaan tersebut harus menjadi perhatian dalam proses pembelajaran,” jelasnya.
Lebih lanjut, H. Irwan mengaitkan pendidikan inklusif dengan implementasi Kurikulum Berbasis Cinta yang menempatkan nilai-nilai religius dan kemanusiaan sebagai bagian penting dalam proses pendidikan. Menurutnya, madrasah harus menjadi ruang pendidikan yang terbuka bagi semua anak.
“Madrasah mesti inklusif. Kurikulum berbasis cinta akan mengantarkan seseorang memiliki kecerdasan intelektual sekaligus kecerdasan spiritual, sehingga kecerdasan yang dibangun menjadi seimbang,” tuturnya.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak semata-mata diukur dari capaian akademik peserta didik. Lebih dari itu, keberhasilan pendidikan tercermin dari kemampuan madrasah dalam membentuk kepribadian dan karakter peserta didik.
“Nilai-nilai agama dan akhlak yang menyatu dengan kecerdasan intelektual akan menjadi pondasi bagi mereka dalam berucap dan bertindak,” katanya.
Dalam konteks tersebut, H. Irwan memberikan contoh sederhana tentang penerapan nilai akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, pendidikan karakter harus dimulai dari kemampuan seseorang memperlakukan orang lain sebagaimana ia ingin diperlakukan.
“Kalau ada kata-kata atau ucapan yang tidak kita senangi, maka jangan kita ucapkan kepada orang lain. Kalau ada sikap yang tidak kita inginkan dari orang lain, maka jangan kita bersikap seperti itu kepada orang lain,” ungkapnya.
Ia berharap pelatihan tersebut dapat memperkuat pemahaman dan kapasitas para pendidik dalam mewujudkan madrasah yang benar-benar memberikan ruang belajar bagi setiap anak, termasuk anak-anak yang membutuhkan pendampingan dan layanan pendidikan khusus.
“Semoga kegiatan ini berjalan dengan lancar, bermanfaat dan diberkahi, serta mencapai tujuan yang kita harapkan. Mudah-mudahan melalui kegiatan ini, kita semakin mampu menghadirkan madrasah tanpa sekat, madrasah yang memberikan kesempatan dan hak belajar yang sama bagi setiap anak,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Seksi Pendidikan Madrasah, Aldy Heko Putra berharap, semoga kegiatan tersebut menjadi langkah konkret dalam memperkuat ekosistem pendidikan inklusif di madrasah Kota Bukittinggi.
"Dengan peningkatan kompetensi kepala madrasah, wakil kepala madrasah, guru dan GPK, In Syaa Allah madrasah semakin mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman, ramah, adaptif dan melahirkan peserta didik yang berilmu, berakhlak dan berkarakter," harapnya. (Andreas)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....