Herlin Khawatir, Administrasi Sekolah Jangan Kalahkan Pendidikan Remaja

  • 28 Agt 2026 10:20 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID,Bukittinggi - Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Provinsi Sumatera Barat melalui Pokok Pikiran (Pokir) Anggota Komisi V DPRD Sumbar Hj. Yessi Endriani, SM.RO, menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Bina Keluarga Remaja (BKR) Angkatan X, Jumat (28/8/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Istana Bung Hatta, Kota Bukittinggi, tersebut dibuka Kepala DP3APPKB Provinsi Sumatera Barat Dr. Herlin Sridiani, M.Kes, didampingi Kasi SMA Cabang Dinas Pendidikan Wilayah I Sumbar serta Wakil Ketua III TP PKK Kota Bukittinggi Dra. Hj. Tati Yasmarni, MM.

Bimtek mengangkat tema “Membangun Kesehatan Mental Remaja dan Psychological First Aid (PFA)” dan diikuti 70 peserta yang terdiri dari guru mata pelajaran serta guru wali dari SMA, SMK, MAN dan sederajat se-Kota Bukittinggi dan Kabupaten Agam.

Dalam kesempatan tersebut, Herlin Sridiani menyoroti masih tingginya persoalan kekerasan terhadap perempuan dan anak yang menjadi salah satu tantangan dalam membangun keluarga tangguh.

Berdasarkan hasil Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) periode 2020–2025, tercatat 327 kasus yang dilaporkan di Sumatera Barat. Secara nasional, survei juga menunjukkan bahwa sekitar satu dari dua anak laki-laki dan perempuan usia 13 hingga 17 tahun pernah mengalami kekerasan.

Herlin mengatakan, pembangunan keluarga tangguh masih membutuhkan perhatian dan keterlibatan semua pihak.

“Belum ada sepenuhnya keluarga tangguh di Sumbar. Akibatnya, berbagai persoalan muncul di dalam rumah tangga,” ujar Herlin.

Menurutnya, kemandirian serta komunikasi dalam keluarga harus terus diperkuat, terlebih ketika anak mulai memasuki usia remaja. Pada fase tersebut, anak membutuhkan perhatian, pendampingan dan ruang komunikasi yang lebih besar dari orang tua.

Herlin menilai komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak merupakan salah satu kunci dalam mencegah berbagai persoalan yang dapat berdampak terhadap kesehatan mental remaja.

Persoalan tersebut semakin kompleks di tengah perkembangan teknologi digital. Minimnya komunikasi dan pengawasan keluarga dapat membuat anak rentan menghadapi berbagai persoalan di ruang digital, termasuk kekerasan berbasis daring.

“Ketika komunikasi dalam keluarga kurang, berbagai persoalan anak bisa muncul dan berkembang, termasuk kekerasan berbasis online,” katanya.

Selain keluarga, Herlin juga menekankan pentingnya peran guru dalam memberikan perhatian terhadap kondisi psikologis peserta didik. Ia mengingatkan agar kesibukan guru dengan berbagai urusan administrasi sekolah tidak mengurangi perhatian terhadap tugas utama dalam mendidik dan mendampingi anak.

“Saya khawatir jika seorang guru mengabaikan mendidik anak karena disibukkan persoalan administrasi sekolah,” tegasnya.

Ia berharap guru tetap mampu menjadi sosok yang hadir dan peka terhadap perubahan perilaku siswa. Guru, kata Herlin, merupakan salah satu pihak yang berinteraksi langsung dengan remaja sehingga memiliki posisi strategis untuk mengenali berbagai persoalan yang dialami peserta didik.

Melalui Bimtek BKR Angkatan X, para guru diharapkan memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai kesehatan mental remaja sekaligus keterampilan memberikan pendampingan awal melalui pendekatan Psychological First Aid (PFA).

PFA merupakan dukungan awal yang dapat diberikan kepada seseorang ketika menghadapi situasi sulit atau tekanan psikologis, sebelum mendapatkan penanganan lebih lanjut dari tenaga profesional apabila diperlukan.

Guru diharapkan mampu mengenali perubahan perilaku siswa, memberikan dukungan awal secara tepat, serta mengarahkan remaja kepada pihak yang berkompeten apabila menghadapi persoalan yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Kegiatan ini sekaligus menjadi upaya memperkuat sinergi antara keluarga, sekolah dan pemerintah dalam menciptakan lingkungan yang aman, sehat dan mendukung tumbuh kembang remaja di Sumatera Barat.

Dengan penguatan kapasitas guru dan keluarga, diharapkan berbagai persoalan yang mengancam kesehatan mental serta keselamatan remaja dapat dikenali dan ditangani sedini mungkin. (JM/RRI BKT)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....