Dr. Irwandi Nashir Suntik Integritas Pendidik Al Azhar
- 05 Jul 2026 09:09 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID,Payakumbuh — Profesionalisme tenaga pendidik tidak sekadar bertumpu pada kemampuan transfer pengetahuan, melainkan pada keteguhan moral dan kedalaman spiritual dalam melayani. Guru dituntut menjadi teladan yang mampu menggerakkan lingkungan sekolah dengan nilai-nilai luhur. Untuk itu, puluhan tenaga pendidik dan kependidikan TK Islam dan SD Islam Al Azhar 65 kota Payakumbuh mengikuti pelatihan intensif "Integritas Tanpa Batas: Bekerja Sepenuh Hati, Melayani Sepenuh Jiwa".
Agenda yang berlangsung Sabtu (4/7/2026) ini menghadirkan dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi,
Dr. Irwandi Nashir, sebagai narasumber tunggal. Dalam pelatihan tersebut, Irwandi membedah dua modul utama, yaitu Modul Kepemimpinan Profetik dalam Pendidikan serta Modul Kaidah-Kaidah Menata Jiwa untuk Menghidupkan Jiwa Berintegritas.
Irwandi mengupas tuntas cetak biru Kepemimpinan Profetik yang digali langsung dari Al-Qur'an Surah Al-Ahzab ayat 45–46. Dari teks suci tersebut, ia merumuskan lima fungsi profetik utama yang wajib diinternalisasi dan diamalkan oleh setiap guru di ruang kelas, yakni menjadi saksi (syahidan), pembawa kabar gembira (mubassyiran), pemberi peringatan (nadziran), penyeru kepada agama Allah (da'iyan ilallah), dan pelita yang menerangi (sirajan muniran). Lima fungsi ini menuntut guru bertindak sebagai pengamat objektif, menghadirkan atmosfer pembelajaran yang optimistis, membentengi moral anak didik dari penyimpangan, berdakwah melalui tindakan nyata, serta menjadi sumber inspirasi spiritual generasi muda.
Melengkapi fondasi kepemimpinan tersebut, penguatan integritas diperkokoh melalui kaidah-kaidah menata jiwa (riyadhatun nafs) dalam ilmu tasawuf.
Menurut Irwandi, integritas lahir dari jiwa yang tertata dan selesai dengan urusan dirinya sendiri. Langkah awal dimulai dari ikhtiar membedakan rupa-rupa bisikan hati (khawatir), agar pendidik mampu mengenali dorongan kebaikan dari malaikat (ilham) atau desakan destruktif dari nafsu dan setan (waswas).
Ketajaman spiritual ini memandu guru melakukan takhalli, yakni cara menghilangkan perangai buruk seperti ketidakjujuran, riya, dan pamrih keduniawian yang merusak ketulusan profesi. Selanjutnya, guru dituntun melakukan tahalli, yaitu melatih jiwa secara konsisten (mujahadah) untuk melakukan hal yang baik, menanamkan kedisiplinan serta tanggung jawab, sekaligus membuang perbuatan buruk.
Ketika seorang pendidik mampu menata jiwanya, orientasi kerjanya otomatis bergeser dari sekadar menggugurkan kewajiban administratif menjadi pelayanan total yang melampaui batas formalitas.
Pihak manajemen Al Azhar kota Payakumbuh, Dewi Andayani, S.Pd., menilai model pelatihan berbasis integrasi spiritual dan profesionalisme ini sangat kontekstual untuk menjaga kepercayaan publik sekaligus melahirkan lulusan yang cerdas secara intelektual dan kokoh secara moral.()
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....