Kepemimpinan Pendidikan di Rumah Tangga Atasi Judol Anak

  • 17 Mei 2026 10:33 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID,Payakumbuh— Fenomena darurat judi online (judol) kini telah merambah ke sektor yang paling rentan, yakni anak-anak. Berdasarkan data nasional terbaru, jumlah anak Indonesia yang kecanduan judi online telah menembus angka 200 ribu anak, di mana 10 ribu di antaranya merupakan anak-anak di bawah usia 10 tahun. Fakta memprihatinkan ini menjadi alarm keras bagi ketahanan keluarga muslim di tanah air.

Pernyataan tersebut ditegaskan oleh Dr. Irwandi Nashir, dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, saat menyampaikan ceramah pendidikan dalam acara pelepasan pelajar Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah Kota Payakumbuh, Sabtu (15/5/2026).

Di hadapan wali murid, akademisi yang juga menjabat sebagai Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) kota Payakumbuh ini menekankan bahwa benteng utama penangkal destruksi moral ini adalah kepemimpinan pendidikan yang dimulai dari rumah tangga.

Dr. Irwandi mengupas konsep kepemimpinan pendidikan tersebut dengan merujuk pada keteladanan nubuwah yang diabadikan dalam Alquran Surah Al-Ahzab ayat 45-46. Dalam ayat tersebut, terdapat lima fungsi utama kepemimpinan yang harus diadopsi oleh orang tua di era digital saat ini, yaitu menjadi saksi, pembawa kabar gembira, pemberi peringatan, penyeru kepada ketaatan, dan menjadi pelita yang menerangi.

Secara konkret, Dr. Irwandi menjabarkan implementasi kelima fungsi tersebut dalam pola asuh sehari-hari:

(1) Menjadi Saksi (Syahidan): Orang tua dituntut aktif memantau serta mampu mengenali secara mendalam karakter unik, bakat, serta potensi yang dimiliki oleh anak.

(2) Membawa Kabar Gembira (Mubashshiran): Diwujudkan dengan senantiasa memberikan apresiasi, motivasi, dan suasana yang menyenangkan agar anak tumbuh dengan rasa percaya diri.

(3) Pemberi Peringatan (Nadziran): Langkah preventif (pencegahan) dari orang tua untuk membatasi anak dari pengaruh buruk lingkungan dan gawai, termasuk bahaya judi online.

(4) Mengajak Ketaatan (Da'iyan ila Allah): Proses mengarahkan dan membimbing anak secara bijaksana tanpa kekerasan untuk senantiasa taat menjalankan perintah Allah Ta'ala.

(5) Cahaya Penerang (Sirajan Munira): Orang tua harus hadir sebagai figur penyejuk yang mampu memberikan jalan keluar atau solusi atas setiap persoalan hidup yang dihadapi sang anak.

"Namun, kita harus menyadari bahwa tidak semua fungsi kepemimpinan pendidikan ini sanggup diemban sendiri oleh orang tua di rumah karena keterbatasan waktu dan kompetensi. Di sinilah pentingnya sinergi dengan lembaga pendidikan formal serta kerja sama yang erat dengan para guru di sekolah," jelas Ustadz Irwandi.

Senada dengan hal tersebut, Kepala SD Muhammadiyah Kota Payakumbuh, Antonius Budiharto, ST., menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada para orang tua siswa. Ia bersyukur atas kepercayaan besar yang diberikan kepada pihak sekolah untuk mendidik buah hati mereka selama enam tahun terakhir.

Acara yang berlangsung khidmat ini turut dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Payakumbuh yang diwakili oleh Kepala Bidang Pendidikan Dasar dan Menengah, Fiqih Rahmat, Sy. Selain itu, tampak hadir jajaran pengurus Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) serta Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kota Payakumbuh.

Sebagai langkah adaptif menghadapi era keterbukaan informasi, momen pelepasan ini juga ditandai dengan peluncuran situs web resmi SD Muhammadiyah Kota Payakumbuh. Portal digital ini dirancang sebagai sarana penyebaran syiar informasi, kabar berita, serta prestasi sekolah agar dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat luas.()

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....