RR.CO.ID, Bukittinggi - Komunitas Islam di china, khususnya etnis Hui, memiliki peran penting sebagai jembatan budaya di wilayah perbatasan, terutama di area yang sering disebut sebagai ''gerbang menuju Tibet''. Komunitas ini adalah merupakan bagian dari diversitas etnis di China barat laut yang berinteraksi erat dengan budaya Tibet dan Han.
Xining, adalah ibu kota Provinsi Qinghai, di akui sebagai titik temu budaya dan gerbang utama menuju dataran tinggi Tibet. Bahkan kota ini merupakan pusat administrasi dan komersial dimana komunitas Muslim terutama Hui, hidup berdampingan dengan masyarakat Tibet dan Han. Suku Hui merupakan Muslim berbahasa mandarin, terbesar di berbagai wilayah.
Islam masuk ke wilayah ini melalui jalur Sutra dan komunitas Muslim telah lama menjadi penggerak ekonomi (berdagang) di kawasan yang berbatasan langsung dengan Tibet. Komunitas Muslim ini membentuk pemukiman terbesar luas, namun terkonsentrasi di titik tertentu yang menjadikannya komunitas yang sangat dinamis di perbatasan China. Agama Islam mulai masuk dan menyebar di wilayah China yaitu melalui hubungan perdagangan, perkawinan, ataupun dengan asimilasi atau persesuaian budaya.
Persentase penduduk beragama Islam di Tiongkok relatif kecil, bahkan di perkirakan berkisar antara 1,6 persen hingga 2 persen dari total populasi atau sekitar 20 - 25 juta jiwa. Meskipun demikian persentasenya kecil, namun jumlah umat Muslim di China cukup signifukan dan terkosentrasi di wilayah barat laut seperti Xinjiang, Ningxia, Gansu dan Qinghai.
| Baca juga: Ini Sejarah Masjid Tertua di Eropa |
Islam telah ada semenjak abad ke - 7 dan meskipun populasinya kecil secara persentase, komunitas Islam memiliki peranpenting dalam keberagaman budaya Tiongkok. Sebagian besar umat Islam berada di daerah yang berbatasan dengan Asia Tengah, Tibet dan Mongolia yaiti Xinjiang,Ningxia,Gansu dan Qinghai yang dikenal sebagai sabuk Al-Qur'an.
Sumber berita;https//madeinchinajournal.com
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....