Menjaga Marwah Remaja Masjid: MTQ Bukan untuk Mengemis

  • 03 Mar 2026 08:33 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID,Agam – Pemandangan remaja berdiri di tengah jalan raya dengan kotak sumbangan demi kegiatan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) seringkali dianggap sebagai hal lumrah. Namun, di mata Ustadz Dr. Irwandi Nashir, pemandangan ini menyimpan kegelisahan mendalam tentang bagaimana kita mendidik generasi muda Islam.

Dosen UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi sekaligus Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) kota Payakumbuh ini mengajak seluruh pengurus masjid untuk mengubah paradigma tersebut. Menurutnya, mengajak remaja turun ke jalan demi mencari dana kegiatan keagamaan justru berisiko mereduksi marwah mereka.

Masjid Harus Mandiri dan Terencana

Ustadz Irwandi menekankan bahwa setiap kegiatan masjid, termasuk MTQ, seharusnya sudah masuk dalam perencanaan anggaran yang matang jauh-jauh hari."Masjid adalah institusi yang mulia. Seharusnya, pembiayaan MTQ sudah diposkan dalam anggaran tahunan. Jika memang sumber ekonomi internal masjid belum mencukupi, penguruslah yang bergerak mencari donatur tetap secara elegan, bukan membiarkan anak-anak kita terpapar debu dan bahaya di jalan raya," jelasnya kepada RRI usai menyampaikan tausyiah Ramadhan di masjid raya Limo Suku, Sungai Pua, Agam, Senin (2/3/2026).

Beliau menambahkan bahwa meminta-minta di jalan raya memberikan kesan bahwa kegiatan syiar Quran adalah kegiatan yang 'memelas', padahal Quran adalah sumber kemuliaan.

Prioritas Pembinaan, Bukan Penarikan Dana

Lebih jauh, Ustadz Irwandi menyoroti peran remaja yang menjadi panitia. Beliau berpendapat bahwa tugas utama remaja masjid adalah belajar dan menempa diri, bukan menjadi ujung tombak pencari dana."Malahan remaja yang menjadi panitia MTQ itu yang harus kita bina terlebih dahulu. Pastikan kemampuan baca tulis Quran mereka sudah mumpuni. Jangan sampai mereka sibuk menggalang dana di jalan, tapi mereka sendiri tidak bisa membaca Al-Quran dengan tartil atau tidak memahami maknanya," jelasnya.

Menurut beliau, akan jauh lebih bernilai jika waktu yang dihabiskan remaja di jalan dialihkan untuk mengikuti pelatihan intensif (tahsin atau tahfidz). Dengan begitu, saat perhelatan MTQ tiba, mereka tidak hanya menjadi panitia penyelenggara, tetapi juga representasi dari generasi Qurani yang beradab.

Pesan untuk Masyarakat

Menutup perbincangannya, tokoh Muhammadiyah Payakumbuh ini menitipkan pesan kepada para orang tua dan pengurus masjid. Beliau mengajak semua pihak untuk lebih protektif terhadap martabat remaja."Mari kita jaga wajah Islam melalui wajah remaja kita. Berikan mereka ruang untuk tumbuh dalam kemuliaan ilmu, bukan dalam kebiasaan meminta-minta di ruang publik. Jika kita ingin MTQ sukses, sukseskan dulu pembinaan manusianya, baru acaranya," pungkas Ustadz Irwandi Nashir.

Pesan ini diharapkan menjadi refleksi bagi masjid-masjid di Sumatera Barat dan Indonesia pada umumnya, agar syiar Quran tetap berjalan selaras dengan nilai-nilai kemuliaan dan martabat yang diajarkan oleh Al-Quran itu sendiri.()

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....