Pekan Literasi Bung Hatta, Menyalakan Jiwa Kebangsaan Generasi
- 10 Agt 2026 09:00 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID,Bukittinggi — Dari kota tempat Mohammad Hatta dilahirkan, semangat membaca dan berpikir kembali digaungkan. Pekan Literasi Bung Hatta Tahun 2026 tidak sekadar menjadi peringatan 124 tahun kelahiran sang Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia, tetapi menjadi momentum untuk menghidupkan kembali pemikiran, keteladanan, dan nalar kebangsaan Bung Hatta di tengah generasi muda dengan menghadirkan keynotespeaker Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Prof. Endang Aminudin Aziz,M.A.Ph.D diikuti sejumlah peserta diantaranya Tpkoh Adat Sumbar DR. H. Gusrizal Dt. Salubuak Basa sekaligus Pengajar Bahasa Indonesia di Australia serta Rektor UIN Sjech. M. Djamil Djambek Bukittinggi Prof. DR. Hj. Silfia Hanani,.S.Sos.M.Si

Pesan tersebut mengemuka dalam Pekan Literasi Bung Hatta Tahun 2026 yang digelar di Aula Perpustakaan Proklamator Bung Hatta, Bukittinggi, Senin (10/8/2026) Kegiatan ini dihadiri Wakil Wali Kota Bukittinggi, Ibnu Asis,STP Sutan Saidi serta sejumlah tokoh dan pemangku kepentingan literasi.
Bagi Bukittinggi, peringatan tersebut memiliki makna historis yang kuat. Kota ini bukan hanya menjadi tanah kelahiran Mohammad Hatta, tetapi juga menyimpan jejak penting perjalanan sejarah bangsa, termasuk ketika Bukittinggi pernah menjadi ibu kota negara pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI).
Wakil Wali Kota Bukittinggi, Ibnu Asis, mengatakan momentum Pekan Literasi Bung Hatta harus mampu menjadi ruang untuk menggali kembali gagasan besar yang diwariskan Bung Hatta sekaligus menanamkan nilai-nilai tersebut kepada generasi penerus.
“Bukittinggi memiliki kehormatan sebagai tanah kelahiran Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia, Mohammad Hatta. Selain itu, Bukittinggi juga memiliki sejarah penting karena pernah menjadi ibu kota negara pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI),” ujarnya.

Menurut Ibnu Asis, warisan Bung Hatta tidak cukup hanya dikenang melalui sejarah maupun berbagai peninggalan fisik. Pemikiran dan nilai perjuangan Bung Hatta harus terus dihidupkan melalui budaya literasi yang mampu membentuk masyarakat berpikir kritis dan memiliki kepedulian terhadap kemajuan bangsa.
Pemerintah Kota Bukittinggi, katanya, berkomitmen memperkuat budaya literasi melalui peningkatan kualitas layanan perpustakaan, penguatan kolaborasi dengan dunia pendidikan dan komunitas literasi, serta berbagai program peningkatan kualitas sumber daya manusia.
“Literasi bukan hanya tentang kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga bagaimana masyarakat mampu memahami, berpikir kritis, dan mengambil nilai dari berbagai pengetahuan untuk kemajuan bersama,” tegasnya.
Pemikiran Bung Hatta Tak Pernah Kehabisan Makna
Sementara itu, Staf Ahli Gubernur Sumatra Barat Bidang Hukum, Politik dan Pemerintahan, Jasman, menilai sosok Bung Hatta merupakan teladan yang pemikiran dan perjuangannya tetap relevan untuk dikaji dari generasi ke generasi.
Menurutnya, perjalanan intelektual dan pemikiran Bung Hatta merupakan sumber ilmu yang tidak pernah habis untuk dipelajari, terutama dalam memahami kehidupan berbangsa, demokrasi, hingga penyelenggaraan pemerintahan.
“Hari ini kita memperingati hari lahir Bung Hatta. Selamat hari lahir Bung Hatta ke-124. Mari bersama kita bedah pemikiran Bung Hatta untuk menjadi teladan dalam menjalankan pemerintahan dan membangun Sumatra Barat yang maju, unggul dan berdaya saing,” pesannya.
Pesan tersebut menjadi penting di tengah perubahan zaman yang begitu cepat. Generasi muda kini hidup dalam arus informasi yang nyaris tanpa batas. Karena itu, kemampuan membaca perlu berjalan beriringan dengan kemampuan memahami, menyaring, mengolah, dan menggunakan pengetahuan secara bijak.
Meutia Hatta: Membaca Harus Melahirkan Nalar
Pesan senada disampaikan putri Bung Hatta, Prof. Meutia Farida Hatta, yang mengikuti kegiatan secara daring.
Meutia mengingatkan bahwa budaya membaca tidak boleh berhenti pada aktivitas memperoleh informasi. Membaca harus melahirkan pemahaman, nalar yang sehat, serta kemampuan menggunakan pengetahuan untuk memberikan manfaat bagi bangsa dan negara.
“Sekarang tidak hanya cukup dengan membaca, tapi harus ditambah dengan pemahaman melalui nalar yang baik dan positif. Kita harus bisa memikirkan upaya untuk kemajuan tanah air. Inilah salah satu kepribadian Bung Hatta yang bisa kita teladani,” ujarnya.
Menurut Meutia, salah satu warisan pemikiran Bung Hatta yang penting terus dipelajari adalah gagasannya mengenai demokrasi.
Bung Hatta, katanya, tidak sekadar mengadopsi konsep demokrasi yang berkembang di negara lain. Ia berupaya membangun pemikiran demokrasi yang memiliki karakter dan relevansi dengan kebutuhan serta jati diri bangsa Indonesia.
Gagasan tersebut menjadi warisan intelektual yang tetap relevan untuk dipelajari generasi muda, khususnya dalam menghadapi tantangan kehidupan berbangsa yang semakin kompleks.
Dari Bukittinggi, Menyalakan Kembali Semangat Bung Hatta
Pekan Literasi Bung Hatta Tahun 2026 pada akhirnya diharapkan tidak berhenti sebagai agenda tahunan atau seremoni memperingati hari lahir seorang Proklamator.
Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk menghadirkan kembali Bung Hatta melalui pemikirannya—tentang ilmu pengetahuan, demokrasi, kebangsaan, integritas, pendidikan, dan tanggung jawab terhadap tanah air.
Dari Bukittinggi, kota kelahiran Bung Hatta, literasi diharapkan tumbuh bukan hanya sebagai budaya membaca, tetapi sebagai kekuatan untuk melahirkan manusia yang mampu berpikir jernih, kritis, berkarakter dan memiliki nalar kebangsaan.
Sebab, mengenang Bung Hatta bukan semata-mata mengingat sosok yang pernah berdiri di panggung sejarah. Mengenang Bung Hatta adalah menghidupkan kembali gagasan dan nilai yang pernah ia perjuangkan untuk Indonesia.
Dan dari kota kelahirannya, semangat itu kembali dinyalakan. (**)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....