Jejak Cinta UIN Bukittinggi di Tenda Pengungsi Tamiang
- 31 Mar 2026 14:22 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID,Kab Aceh Tamiang — Suara derit sling baja jembatan gantung yang bergoyang di ketinggian menjadi musik latar yang getir bagi warga Desa Pengidam, Kecamatan Bandar Pusaka, Aceh Tamiang. Di bawahnya, aliran sungai yang pernah mengamuk kini tampak tenang, namun sisa-sisa lumpur yang membalut pemukiman menjadi saksi bisu bahwa luka akibat banjir bandang itu sama sekali belum sembuh.
Bagi Tim Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, perjalanan menuju titik ini adalah sebuah ziarah kemanusiaan. Dipimpin oleh Dr. H. Muhiddunur Kamal, M.Pd., tim sengaja memilih lokasi-lokasi yang sempat terisolasi akibat jembatan yang ambruk. Untuk mencapai saudara-saudara yang terpinggirkan di pelosok, tim harus bertaruh nyali dengan menaiki "getek" atau perahu penyeberangan tradisional.
"Jatuh air mata melihat saudara kita di sini. Mereka merata tinggal di tenda-tenda berlumpur," ungkap Muhiddunur dengan suara tertahan.Kontras itu nyata terlihat. Di dekat pusat perkantoran bupati, Hunian Sementara (Huntara) dan Hunian Tetap (Huntap) mulai berdiri meski jumlahnya terbatas. Namun, begitu masuk ke pedalaman seperti Kampung Durian di Kecamatan Rantau, janji tentang hunian yang layak seolah terbawa arus sungai. Huntap tak pasti, Huntara tak jelas; yang nyata hanyalah genangan lumpur dan isak tangis di balik terpal plastik.

Penguatan Spiritual di Tengah Keterbatasan
Kehadiran tim dari Bukittinggi ini, yang berlangsung sepanjang 12 hingga 19 Maret 2026, tidak hanya membawa bantuan materiil. Di tengah keputusasaan, mereka menyelenggarakan kegiatan Penguatan Agama dan Mental Spiritual. Di bawah atap tenda yang lembap, doa-doa dipanjatkan, mencoba membasuh trauma yang mengendap di jiwa para penyintas.
Selain dukungan psikologis, tim LP2M UIN Bukittinggi juga menyerahkan bantuan tunai sebesar Rp 203 juta. Sebuah angka yang diharapkan menjadi penyambung nafas bagi mereka yang kehilangan harta benda dalam sekejap.
Fokus tim sangat jelas, yaitu menjangkau yang tak terjangkau. Jika di wilayah kota akses bantuan relatif mudah, maka di pedalaman, kehadiran bantuan adalah sebuah kemewahan yang langka. "Pengalaman luar biasa ini mengingatkan kita bahwa penyintas di pedalaman yang aksesnya terbatas harus menjadi prioritas utama," tambah Muhiddunur.
Misi kemanusiaan ini mendapat apresiasi dan dukungan penuh dari Rektor UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Prof. Dr. Silfia Hanani, M.Si. Ia menegaskan bahwa kehadiran perguruan tinggi di tengah masyarakat yang sedang berduka adalah wujud nyata dari pengabdian tanpa batas.
"Apa yang dilakukan tim LP2M di Aceh Tamiang adalah pengejawantahan nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas yang kita junjung tinggi. UIN Bukittinggi berkomitmen untuk hadir tidak hanya dalam bentuk kajian akademis, tetapi juga aksi nyata yang menyentuh langsung denyut nadi masyarakat yang sedang kesulitan, khususnya para penyintas di wilayah terpencil," ujar Prof. Silfia Hanani.
Saat tim bersiap kembali ke Padang pada dini hari yang buta, sekitar pukul 03.30, bayangan jembatan gantung dan getek itu masih melekat kuat. Perjalanan fisik mungkin berakhir, namun misi untuk terus menyuarakan nasib para penyintas di balik lumpur Tamiang baru saja dimulai. Di sana, di antara tenda dan sungai, kemanusiaan sedang diuji oleh waktu dan janji-janji yang belum tertunaikan.()
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....