UIN Bukittinggi Raih Dua Penghargaan di Ekspo KKN Nusantara VI
- 21 Agt 2026 18:51 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID,LEUWIDAMAR — Sereh tak sekadar tanaman pekarangan bagi warga Desa Wantisari, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. Di tangan 16 mahasiswa lintas perguruan tinggi keagamaan Islam, tanaman tersebut disulap menjadi produk antinyamuk alami bernama “Nahwangi”.
Inovasi berbasis ekoteologi itu mengantarkan Kelompok 9 Nawantara meraih dua penghargaan sekaligus, yakni Juara II Stand Ekspo Terbaik dan Kelompok Teraktif pada penutupan KKN Nusantara VI 2026 di Gedung Pertemuan Kecamatan Leuwidamar, Kamis (20/8/2026).
Delegasi UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi menjadi bagian dari kelompok yang mengembangkan pemanfaatan potensi sereh lokal tersebut.
Ekspo dan penutupan KKN Nusantara VI diikuti 15 kelompok pengabdian dari berbagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se-Indonesia. Mereka ditempatkan di Kecamatan Leuwidamar dan Cirinten.
Kegiatan tersebut turut dihadiri jajaran Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama, pimpinan LPPM PTKIN, serta unsur Pemerintah Kabupaten Lebak.
Sereh Jadi Produk Antinyamuk
Prestasi Kelompok 9 Nawantara mendapat apresiasi dari Rektor UIN Bukittinggi, Prof. Dr. Silfia Hanani. Menurut dia, capaian tersebut menunjukkan pengabdian kepada masyarakat dapat berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap lingkungan.
“Prestasi ini membuktikan bahwa mahasiswa tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan ekologis yang tinggi,” ujar Prof Silfia.
Dia menilai pemanfaatan sereh menjadi produk antinyamuk merupakan bentuk nyata pengabdian yang menggali potensi lokal sekaligus menguatkan nilai keagamaan.
Gagasan “Nahwangi” lahir dari interaksi mahasiswa dengan masyarakat Desa Wantisari. Mereka melihat sereh sebagai tanaman yang melimpah dan berpotensi dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai guna bagi masyarakat.
Kasubdit Litapdimas Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kemenag RI, Nur Kafid, mengatakan KKN Nusantara merupakan bagian dari upaya membangun desa secara berkelanjutan.
“Leuwidamar menyimpan potensi besar dalam ekoteologi. Tradisi masyarakat yang berpadu dengan nilai keagamaan menjadi modal sosial penting untuk menjaga keseimbangan alam,” katanya.
Menurut dia, Kementerian Agama terus mendorong ekoteologi menjadi tema unggulan yang dapat dikembangkan dan direplikasi di berbagai daerah.
Ketua LPPM UIN Bukittinggi, Dr. Muhiddinur Kamal, menyebut penghargaan tersebut sejalan dengan semangat KKN 2026: Syiarkan Kebaikan, Lestarikan Lingkungan, dan Bakti UIN Bukittinggi untuk Negeri.
Wakil Rektor Urusan Akademik UIN Bukittinggi, Dr. Afrinaldi, berharap capaian itu menjadi pemacu mahasiswa untuk terus melahirkan inovasi dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
Bukan Sekadar Trofi
Lebih dari sekadar penghargaan, KKN Nusantara VI menjadi ruang perjumpaan mahasiswa dari berbagai daerah dan latar belakang perguruan tinggi.
Kepala Pusat Pengabdian Masyarakat UIN Bukittinggi, Dr. Arjoni, mengatakan Kelompok 9 Nawantara beranggotakan 16 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, antara lain UIN Purwokerto, UIN Lampung, UIN Banten, UIN Bandung, UIN Padangsidimpuan, UIN Pekalongan, UIN Kudus, UIN Mataram, UIN Palangkaraya, IAIN Ternate, IAIN Kendari, dan UIN Bukittinggi.
Keragaman tersebut menjadi kekuatan dalam menjalankan program pengabdian. Mahasiswa tidak hanya dituntut menuntaskan program kerja, tetapi juga belajar berkomunikasi, beradaptasi, dan membangun kepekaan sosial bersama masyarakat.
“KKN bukan hanya tentang menyelesaikan program kerja, tetapi bagaimana mahasiswa hadir, berbaur, dan memberikan manfaat nyata,” ujar Arjoni.
Bagi mahasiswa UIN Bukittinggi, pengalaman selama KKN juga meninggalkan kesan tersendiri.
“Pertemanan, keberanian mencoba hal baru, serta kenangan bersama warga Desa Wantisari adalah hadiah yang jauh lebih berkesan,” kata Hadana Rosyada, mahasiswa semester IV delegasi UIN Bukittinggi.
Panggung ekspo boleh dibongkar. Namun, gagasan yang ditinggalkan Kelompok 9 Nawantara di Desa Wantisari diharapkan terus tumbuh. Dari sereh menjadi “Nahwangi”, para mahasiswa menunjukkan bahwa ilmu, kepedulian lingkungan, dan nilai keagamaan dapat dirangkai menjadi pengabdian yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....