Menjemput yang Tak Datang
- 30 Agt 2026 20:41 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Bukittinggi – Pintu pelayanan Puskesmas tidak selalu menjadi tempat terakhir yang didatangi pasien setelah mengetahui dirinya memiliki penyakit. Ada kalanya langkah pasien terhenti karena berbagai alasan, sementara pengobatan tetap harus berjalan.
Bagi Puskesmas Rasimah Ahmad Kota Bukittinggi, kondisi itu tidak serta-merta membuat petugas berhenti memantau. Ketika pasien tidak mampu datang untuk kontrol, Puskesmas justru mengambil langkah sebaliknya: mendatangi rumah pasien melalui layanan Puskesmas Keliling atau Puskel.
Upaya itu menjadi bagian dari tanggung jawab Puskesmas setelah masyarakat mengikuti program Cek Kesehatan Gratis atau CKG. Sebab, bagi tenaga kesehatan, menemukan penyakit hanyalah awal dari perjalanan untuk memastikan pasien mendapatkan pengobatan yang berkelanjutan.

Dokter Puskesmas Rasimah Ahmad, dr. Netrawati, mengatakan pasien dengan hipertensi dan diabetes mellitus biasanya diberikan kartu kontrol sebagai pengingat agar datang kembali secara rutin. Pasien juga terus diingatkan untuk mengonsumsi obat dan melakukan kontrol setiap bulan.
Namun, keteraturan kontrol tidak selalu mudah bagi semua pasien. Ada pasien yang bergantung pada anak untuk mengantarkan ke Puskesmas, sehingga ketika anak sedang bekerja, jadwal kontrol dapat terlewat.
“Kalau kami misalnya pasien-pasien yang tidak bisa datang, kami kan punya Puskel,” ujarnya, Sabtu 22 Agustus 2026.
Melalui layanan tersebut, perawat atau bidan melakukan kunjungan ke rumah pasien untuk memantau kondisi mereka. Petugas juga membawa obat, sehingga keterbatasan pasien untuk datang ke fasilitas kesehatan tidak otomatis membuat pengobatan terputus.
Pemantauan itu tidak hanya ditujukan kepada pasien hipertensi dan diabetes. Menurut Netrawati, pasien dengan gangguan jiwa juga termasuk kelompok yang dipantau melalui kunjungan rumah.
Langkah tersebut menjadi penting karena penyakit yang ditemukan melalui CKG tidak selalu disertai keluhan. Hipertensi, misalnya, kerap tidak menunjukkan gejala sehingga seseorang dapat merasa sehat meski tekanan darahnya sudah tinggi.
Di Puskesmas Rasimah Ahmad, hipertensi dan diabetes mellitus termasuk penyakit yang kerap ditemukan melalui pemeriksaan. Bahkan, temuan itu tidak hanya terjadi pada kelompok lanjut usia karena pasien berusia 20-an juga sudah ditemukan mengalami hipertensi dan diabetes.
Karena itu, CKG menjadi pintu untuk mengetahui kondisi tubuh, mengenali faktor risiko, sekaligus mendeteksi penyakit lebih awal. Netrawati mengatakan pemeriksaan dini penting agar masyarakat tidak menunggu sampai penyakit berkembang dan menimbulkan komplikasi.
Namun, mengetahui penyakit saja tidak cukup. Setelah masalah kesehatan ditemukan, Puskesmas memberikan edukasi dan pengobatan, sementara pasien yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut akan dirujuk ke fasilitas kesehatan lanjutan.
Di sinilah makna “Cegah Dini, Tuntas Obati” menjadi lebih dari sekadar slogan. Pencegahan dimulai dengan mengetahui kondisi kesehatan sedini mungkin, sedangkan pengobatan tuntas berarti memastikan pasien tetap mendapatkan pendampingan setelah diagnosis ditemukan.
Tantangan berikutnya adalah menjaga agar pasien tidak berhenti di tengah perjalanan. Netrawati mengakui ada pasien yang terlambat datang karena persoalan pendamping, tetapi Puskesmas memiliki cara untuk tetap memantau mereka.
Ketika pasien tidak patuh melakukan kontrol, petugas juga berupaya menghubungi dan mengingatkan keluarga. Bagi Puskesmas, keluarga memiliki peran penting karena dapat menjadi sumber dukungan dan motivasi bagi pasien yang mulai jenuh menjalani pengobatan.
Kejenuhan bukan persoalan kecil bagi pasien yang harus mengonsumsi obat dalam jangka panjang. Dukungan keluarga dapat membuat pasien lebih bersemangat untuk terus menjalani pengobatan dan menjaga kondisi kesehatannya.
Pengalaman Netrawati menunjukkan bahwa deteksi dini dapat mengubah cara seseorang memandang kesehatan. Ia menceritakan seorang warga yang datang menemani orang tuanya ke Puskesmas, kemudian disarankan mengikuti CKG meski tidak memiliki keluhan.
Hasil pemeriksaan justru menunjukkan tekanan darah dan kadar gula warga tersebut tinggi. Ia bersyukur mengetahui kondisi itu lebih awal karena memiliki orang tua dengan riwayat hipertensi dan diabetes yang kemudian mengalami stroke.
Cerita tersebut memperlihatkan bahwa seseorang tidak harus menunggu tubuh memberikan tanda untuk mulai peduli. Terlebih ketika terdapat riwayat penyakit dalam keluarga, pemeriksaan menjadi salah satu cara untuk mengetahui risiko lebih awal.
“Lebih baik kita mencegah daripada mengobati,” katanya.
Pesan itu pula yang ingin ditanamkan kepada masyarakat melalui CKG. Jangan menunggu sakit baru memeriksakan diri, sebab ada penyakit yang dapat berkembang tanpa gejala yang disadari.
Pada akhirnya, pelayanan kesehatan tidak hanya tentang siapa yang datang ke Puskesmas. Ada kalanya pelayanan harus bergerak keluar dari gedung, mengetuk pintu rumah warga, membawa obat, sekaligus memastikan pasien tetap berada dalam pemantauan.
Sebab ketika langkah pasien terhenti, tanggung jawab pelayanan tidak ikut berhenti. Puskesmas memilih untuk menjemput mereka yang tak datang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....