Fiqhut Taghaful, Menjaga Kewarasan dan Daya Saing Lembaga
- 06 Sep 2026 09:48 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID,Payakumbuh— Di tengah dinamika kehidupan sosial dan organisasi yang semakin kompleks, kemampuan mengelola emosi dan menyikapi kekhilafan orang lain menjadi kunci penting keberhasilan kepemimpinan.
Konsep Fiqhut Taghaful atau seni mengabaikan hadir sebagai salah satu strategi spiritual dan psikologis dalam membangun kedewasaan diri serta menjaga kondusivitas lingkungan.

Hal tersebut disampaikan oleh dosen Universitas Islam Negeri (UIN)Bukittinggi, Dr Irwandi, dalam pemaparannya di Kampus PSDKU (Program Studi Diluar Kampus Utama) Universitas Negeri Padang (UNP) di Payakumbuh, Sabtu (5/9/2026).
Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka Capacity Building bagi dosen dan tenaga kependidikan Program Studi Magister (S2) Pendidikan Matematika FMIPA UNP dengan tema "Sinergi dan Transformasi SDM menuju Program Studi Magister (S2) yang Unggul dan Berdaya Saing", yang dihadiri oleh para peserta dari kalangan dosen dan tenaga kependidikan S2 Pendidikan Matematika.
Irwandi menjelaskan bahwa Fiqhut Taghaful bukanlah bentuk kelemahan, kelalaian, atau kebodohan, melainkan puncak kedewasaan spiritual, emosional, dan intelektual. Secara harfiah, istilah ini merujuk pada pemahaman mendalam mengenai seni berpura-pura tidak tahu atau mengabaikan hal-hal sepele yang tidak mendasar.
"Teguran memang instrumen untuk mensucikan hati, tetapi tidak semua keadaan harus diselesaikan dengan teguran. Ada kalanya seseorang harus menunjukkan seakan dirinya tidak melihat padahal melihat, atau seolahlupa padahal mengerti. Menutup mata atas aib dan kekhilafan orang lain adalah ciri keluhuran budi," ujar Irwandi yang juga mengemban amanah sebagai Wakil Ketua Ikatan Alumni Pascasarjana UNP.
Sebagai teladan utama, ia merujuk pada Surah Yusuf ayat 77, di mana Nabi Yusuf 'Alaihissalam memilih untuk menyembunyikan kekesalannya dalam hati dan tidak menampakkannya kepada saudara-saudaranya. Prinsip ini juga sejalan dengan pandangan para ulama, seperti Imam Ahmad yang menyatakan bahwa sebagian besar kewarasan terletak dalam kemampuan mengabaikan, serta Imam asy-Syafi'i yang menilai sosok bijak adalah mereka yang cerdas namun mampu bersikap acuh pada hal-hal yang tidak penting.
Perspektif Psikologi dan Kepemimpinan
Dari sudut pandang psikologi kognitif dan kesehatan mental, jelas. Irwandi, penerapan taghaful dinilai efektif dalam menghemat alokasi beban otak (cognitive load). Dengan tidak merespons setiap kesalahan kecil secara berlebihan, seseorang dapat menjaga kadar hormon stres (kortisol) dan mempertahankan ketenangan batin (inner peace).
| Baca juga: Penguatan Pola Asuh di Hari Anak Nasional |
Dalam konteks organisasi, taghaful berperan menciptakan rasa aman psikologis (psychological safety). Pemimpin yang toleran dan mampu mengendalikan diri dari perdebatan tak bersubstansi cenderung lebih mudah merangkul simpati dan mempererat solidaritas tim ketimbang pemimpin yang bersikap keras.
Merespons paparan tersebut, Dekan FMIPA UNP, Prof. Dr. Yulkifli Amir, menyampaikan apresiasinya. Menurutnya, sikap mental sangat relevan dengan upaya peningkatan kapasitas SDM di lingkungan akademik, khususnya bagi dosen dan tenaga kependidikan di S2 Pendidikan Matematika.
"Sinergi dan transformasi menuju program studi magister yang unggul memerlukan iklim kerja yang kondusif. Sikap saling memahami, kelapangan dada, dan kemampuan mengelola emosi sebagaimana dijelaskan dalam konsep fiqhut taghaful menjadi fondasi penting bagi para dosen dan tendik dalam membangun kerja sama yang produktif," tutur Yulkifli.
Dengan memadukan pendekatan keagamaan, psikologi kognitif, dan prinsip kepemimpinan, Fiqhut Taghaful diharapkan dapat menjadi landasan etik bagi civitas akademika dalam menjaga kesehatan mental sekaligus memperkuat daya saing lembaga.()
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....