Dosen ISI Padangpanjang Angkat Cendawan Galeme ke Digital

  • 24 Agt 2026 14:04 WIB
  •  Bukittinggi

Penulis :

Arief Irvan, Basyarul Aziz, Shinta Oktavia (Dosen Antropologi Budaya Institut Seni Indonesia Padangpanjang)

RRO.CO.ID,Maninjau - Ditengah rimbunnya perbukitan yang mengelilingi Danau Maninjau, masyarakat Minangkabau masih menyimpan pengetahuan tradisional tentang pemanfaatan Cendawan Galeme, jamur liar musiman yang secara turun-temurun diolah menjadi ramuan tradisional bernama tamakan.

Ramuan tersebut dipercaya masyarakat setempat memiliki manfaat untuk menjaga stamina, mencegah penyakit hingga membantu memulihkan kondisi tubuh. Namun, warisan pengetahuan tersebut kini menghadapi ancaman kepunahan karena selama ini lebih banyak diwariskan secara lisan dan belum terdokumentasi secara sistematis, baik dalam bentuk tulisan maupun digital.

Kondisi itu mendorong tim dosen Program Studi Antropologi Budaya, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang, melakukan pengabdian kepada masyarakat di Jorong Data Simpang Dingin, Nagari Paninjauan, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam.

Kegiatan tersebut mengusung tema “Digital Branding Identity Cendawan Galeme sebagai Ramuan Tradisional Tamakan dengan Pendekatan Etnomedisin” dan didanai melalui hibah Dana Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) ISI Padangpanjang bidang sosial humaniora.

Tim diketuai Arief Irvan, M.Sos., berlatar belakang Sosiologi, dengan anggota Basyarul Aziz, M.Si., yang memiliki keahlian Antropologi, serta Shinta Oktavia, M.Si., yang berlatar belakang media dan budaya.

Kolaborasi lintas disiplin tersebut dirancang agar program tidak hanya menghasilkan identitas visual dan pemanfaatan teknologi digital, tetapi juga memastikan pengetahuan mengenai Cendawan Galeme tetap ditempatkan dalam konteks budaya masyarakat setempat.

Belum Memiliki Wajah Digital

Selama ini, pengetahuan mengenai Cendawan Galeme masih terbatas di lingkungan rumah tangga masyarakat Jorong Data Simpang Dingin. Dokumentasi mengenai sejarah penggunaan, proses pengolahan, cara konsumsi maupun pengetahuan etnomedisinnya belum tersedia secara sistematis.

Kondisi tersebut semakin diperkuat dengan belum optimalnya pengelolaan media sosial jorong. Akibatnya, keberadaan Cendawan Galeme sebagai bagian dari pengetahuan lokal masyarakat belum banyak diketahui masyarakat di luar wilayah tersebut.

Tim pengabdian menilai, diperlukan identitas visual dan digital yang terstruktur untuk mendokumentasikan sekaligus memperkenalkan potensi budaya tersebut kepada masyarakat luas.

Di sisi lain, meningkatnya perhatian masyarakat terhadap pengetahuan kesehatan tradisional dan produk berbasis etnobotani dinilai menjadi peluang untuk memperkenalkan Cendawan Galeme sebagai bagian dari kekayaan budaya lokal Sumatera Barat.

Empat Strategi Pelestarian

Untuk menjawab persoalan tersebut, tim pengabdian merancang empat langkah utama.

Pertama, membangun identitas merek digital Cendawan Galeme berdasarkan nilai budaya, sejarah konsumsi serta praktik etnomedisin masyarakat setempat.

Kedua, merancang visual packaging yang representatif. Kemasan tersebut tidak hanya diarahkan untuk kepentingan komersial, tetapi juga menjadi media dokumentasi dan promosi potensi lokal.

Ketiga, membangun kanal komunikasi digital resmi melalui media sosial, seperti Instagram, sehingga narasi budaya mengenai Cendawan Galeme dapat disampaikan secara konsisten kepada khalayak yang lebih luas.

Keempat, memberikan pelatihan literasi digital kepada perangkat jorong dan pemangku adat. Dengan demikian, masyarakat diharapkan mampu mengelola dan mengembangkan narasi tentang Cendawan Galeme secara mandiri.

Masyarakat Menjadi Mitra Aktif

Program tersebut menggunakan pendekatan partisipatif dengan menempatkan masyarakat sebagai mitra aktif.

Tim melakukan diskusi kelompok terarah atau FGD bersama tokoh adat, observasi langsung terhadap praktik pemanfaatan tamakan, dokumentasi visual serta perancangan identitas melalui metode co-design.

Pendekatan etnomedisin digunakan agar proses dokumentasi tetap memperhatikan keaslian, etika dan konteks budaya masyarakat.

Program tersebut bukan dimaksudkan untuk mengubah praktik adat yang telah berlangsung turun-temurun, melainkan membantu masyarakat mendokumentasikan dan mengemas pengetahuan tersebut sehingga dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dua Kali Kunjungan ke Jorong Data Simpang Dingin

Kunjungan pertama dilakukan pada 14 Juli 2026. Tim melakukan observasi terhadap keberadaan Cendawan Galeme sekaligus menggali informasi dari masyarakat mengenai sejarah, proses pengolahan dan makna budaya ramuan tamakan.

Dialog dilakukan dengan berbagai kelompok masyarakat, mulai dari generasi muda hingga generasi tua.

Selanjutnya, kunjungan kedua dilaksanakan pada 21 Juli 2026 melalui kegiatan FGD yang melibatkan perangkat jorong, masyarakat dari berbagai generasi, angku serta tetua adat.

Dalam kegiatan tersebut berlangsung pertukaran informasi antara tim pengabdian dan masyarakat. Tim juga menyerahkan sejumlah alat pendukung branding Cendawan Galeme di media sosial sekaligus memberikan pelatihan penggunaan alat dan teknologi tersebut.

Pendampingan tidak berhenti setelah dua kali kunjungan. Tim berencana melakukan pemantauan secara berkala serta memberikan masukan agar masyarakat dapat mengembangkan pemanfaatan teknologi digital secara mandiri.

Diharapkan Menjadi Peluang Ekonomi Masyarakat

Wali Jorong Data Simpang Dingin, Rido Rahmat Danil, menyambut positif program pengabdian yang dilakukan dosen ISI Padangpanjang.

“Kami sangat mendukung dan berterima kasih atas pengabdian yang dilakukan dosen ISI Padangpanjang ini. Mudah-mudahan Cendawan Galeme ini bukan hanya dikenal oleh masyarakat lokal, tetapi juga bisa menjadi salah satu mata pencaharian lain bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi awal bagi perhatian yang lebih besar dari perguruan tinggi maupun pihak terkait terhadap potensi Jorong Data Simpang Dingin.

Harapan serupa disampaikan perwakilan masyarakat dan angku setempat. Mereka berharap kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dapat terus dilanjutkan untuk mengembangkan sekaligus menjaga keberadaan Cendawan Galeme.

Menjaga Warisan di Tengah Arus Digitalisasi

Dalam jangka pendek, program ini diharapkan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mendokumentasikan pengetahuan tradisional mereka sendiri.

Dalam jangka menengah, identitas budaya Cendawan Galeme diharapkan semakin dikenal melalui kanal digital yang dibangun. Sedangkan dalam jangka panjang, program tersebut diharapkan membuka peluang pengembangan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal tanpa menghilangkan keaslian praktik budaya masyarakat.

Jorong Data Simpang Dingin diharapkan nantinya memiliki identitas digital yang kuat sehingga Cendawan Galeme tidak hanya dikenal sebagai potensi lokal, tetapi juga menjadi bagian dari warisan pengetahuan masyarakat Minangkabau yang terdokumentasi dan dapat dipelajari lintas generasi.

Program tersebut sekaligus menjadi salah satu bentuk pelaksanaan tridarma perguruan tinggi oleh ISI Padangpanjang. Lebih jauh, kegiatan ini menunjukkan bahwa pelestarian pengetahuan tradisional dapat berjalan beriringan dengan perkembangan teknologi digital.

Dengan dokumentasi, edukasi dan pengelolaan digital yang tepat, Cendawan Galeme diharapkan tidak hilang ditelan zaman, tetapi justru menemukan ruang baru untuk tetap hidup, dikenal dan diwariskan kepada generasi mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....