Ditengah Ledakan AI, Mengapa Kemampuan Berpikir Kritis di Era Digital
- 23 Agt 2026 20:34 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Bukittinggi - Perkembangan kecerdasan buatan atau AI semakin cepat dan memengaruhi cara masyarakat belajar, bekerja, serta mencari informasi.
Teknologi tersebut menawarkan kemudahan, tetapi pengguna tetap perlu menilai informasi secara kritis.
UNESCO menilai pendidikan tetap penting karena berperan mengembangkan kemampuan berpikir kritis di tengah perkembangan AI.
“Pendidikan ... remains irreplaceable,” tulis UNESCO dalam pembahasannya tentang kemampuan berpikir pada era AI.
Kemampuan berpikir kritis membantu seseorang memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya.
Keterampilan ini semakin penting ketika AI mampu menghasilkan jawaban dalam waktu sangat singkat.
Jawaban AI tidak selalu benar dan tetap membutuhkan pemeriksaan dari penggunanya.
Karena itu, masyarakat perlu membandingkan informasi AI dengan sumber terpercaya sebelum mengambil keputusan.
World Economic Forum menempatkan kemampuan berpikir analitis sebagai keterampilan inti yang paling dicari pemberi kerja.
Laporan tersebut juga menunjukkan pentingnya kreativitas, ketahanan, fleksibilitas, dan literasi teknologi.
Di lingkungan pendidikan, siswa perlu menggunakan AI sebagai alat bantu, bukan pengganti proses berpikir.
Guru dan orang tua dapat mendorong anak menjelaskan alasan sebelum menerima sebuah jawaban.
Kebiasaan bertanya menjadi salah satu cara sederhana melatih kemampuan berpikir kritis.
Pertanyaan seperti “apa buktinya” dan “siapa sumbernya” dapat membantu menguji informasi.
Masyarakat juga perlu memahami bahwa konten digital dapat dibuat semakin meyakinkan dengan bantuan AI.
Foto, video, suara, dan tulisan dapat terlihat nyata meskipun informasinya belum tentu benar.
UNESCO menekankan pentingnya literasi media dan berpikir kritis menghadapi AI, algoritma, serta disinformasi digital.
Program UNESCO tersebut melibatkan hampir 500 pendidik dari berbagai negara.
Kemampuan berpikir kritis juga membantu seseorang menggunakan AI secara lebih bertanggung jawab.
Pengguna dapat menentukan kapan AI membantu pekerjaan dan kapan keputusan manusia harus menjadi penentu.
Di dunia kerja, kemampuan manusia tetap dibutuhkan meskipun teknologi semakin berkembang.
World Economic Forum menyebut keterampilan teknologi, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi semakin penting menghadapi perubahan pekerjaan.
Karena itu, masyarakat tidak cukup hanya belajar menggunakan berbagai aplikasi AI.
Masyarakat juga perlu belajar memeriksa sumber, memahami konteks, mempertanyakan hasil, dan mengambil keputusan secara mandiri.
Ledakan AI seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat kemampuan manusia, bukan menghilangkan kebiasaan berpikir.
Dengan berpikir kritis, masyarakat dapat memanfaatkan AI secara cerdas tanpa kehilangan kendali atas keputusan sendiri. (APS/YPA)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....