Polandia Melahirkan Cendekia Indonesia, Akankah Mereka Pulang Mengabdi
- 02 Jul 2026 19:26 WIB
- Bukittinggi
Oleh ; Hafni PON
( Wartawan Senior Sumatera Barat )
RRI.CO.ID,Krakow Polandia - Krakow merupakan salah satu kota di Polandia yang berjarak sekitar 300 kilometer dari Warsawa, ibu kota negara tersebut. Nama kota ini mungkin belum begitu familiar bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Saya sendiri baru mengenalnya ketika anak saya memperoleh beasiswa program magister (S-2) di Universitas Warsawa, beberapa waktu sebelum pandemi Covid-19 melanda dunia.
Langkah pertamanya menjejakkan kaki di Benua Eropa dimulai dari Krakow, saat mengikuti program orientasi bahasa Polandia. Kini, anak saya yang insya Allah segera menyelesaikan studi doktoral (S-3) di Universitas Warsawa, masih cukup sering berkunjung ke kota itu. Selain karena alasan akademik, Krakow juga menjadi salah satu pusat berkumpulnya mahasiswa Indonesia yang melanjutkan pendidikan hingga jenjang doktoral.
Di berbagai perguruan tinggi negeri di Polandia, tidak hanya mahasiswa Indonesia yang memperoleh kesempatan belajar melalui program beasiswa. Setiap tahun, ratusan mahasiswa dari berbagai negara berkembang juga mendapatkan kesempatan serupa untuk menimba ilmu di negeri tersebut.

Menariknya, para penerima beasiswa tidak terikat kontrak yang mengharuskan mereka mengabdi kepada kampus maupun negara Polandia setelah menyelesaikan pendidikan. Mereka memiliki kebebasan menentukan pilihan karier dan masa depan, termasuk memilih negara tempat mereka akan bekerja dan berkarya.
Bagi Indonesia, para mahasiswa yang menempuh pendidikan hingga jenjang S-2 dan S-3 di luar negeri tentu merupakan aset bangsa yang sangat berharga. Mereka ibarat pohon kelapa yang telah tumbuh subur, sedang berbunga, dan bersiap menghasilkan buah.
Namun, muncul sebuah pertanyaan mendasar: jika “karambia” (kelapa) itu tumbuh di tanah orang, apakah buahnya kelak dapat dinikmati oleh bangsa sendiri?
Kelapa-kelapa Indonesia itu selama bertahun-tahun telah tumbuh dan berkembang di Polandia. Mereka menyerap ilmu, pengalaman, serta keterampilan dari lingkungan yang mendukung. Tetapi ketika masa panen tiba, ke manakah buahnya akan jatuh? Apakah kembali ke Indonesia, atau justru dinikmati oleh negara lain yang mampu menyediakan ruang lebih luas bagi mereka untuk berkembang?
Sesungguhnya, meskipun akar “kelapa Indonesia” telah menjalar di negeri asing, bukan berarti buahnya tidak dapat dibawa pulang. Berbeda dengan pepatah Minangkabau “tapaga karambia condong”, yang menggambarkan sesuatu yang tumbuh namun sulit dimanfaatkan oleh pemiliknya sendiri. Dalam konteks sumber daya manusia, negara seharusnya mampu menghadirkan daya tarik agar putra-putri terbaik bangsa tetap merasa memiliki alasan untuk kembali dan mengabdi.
Kegelisahan itu saya rasakan secara langsung ketika berbincang dengan sejumlah mahasiswa Indonesia di apartemen yang kami sewa selama berada di Krakow, kota tua yang sarat nilai sejarah dan budaya. Hampir semua yang saya temui mengungkapkan keinginan untuk menerapkan ilmu dan keterampilan yang mereka peroleh bukan di Indonesia, melainkan di negara lain yang dinilai menawarkan peluang lebih baik.
Pengakuan tersebut menjadi ironi yang tidak lagi sekadar saya baca atau dengar dari cerita orang lain. Pada malam yang hampir memasuki dini hari, saya mendengar langsung suara generasi muda Indonesia yang cerdas, terdidik, dan telah “matang”. Mereka adalah calon-calon pemimpin, ilmuwan, profesional, dan inovator masa depan. Namun sebagian besar justru bercita-cita menanamkan akar kehidupannya di negeri orang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....