Krisis Ekologi Lahir dari Kelalaian Moral dan Kekuasaan
- 15 Jun 2026 08:25 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID,Bukittinggi – Krisis ekologis dan bencana alam global yang terjadi saat ini tidak boleh lagi dipandang semata-mata sebagai fenomena alamiah.
Guna memperluas gaung pemikiran ekoteologi di tingkat global, Pusat Hubungan Internasional UIN Bukittinggi melakukan terobosan strategis dengan menggandeng Pusat Kajian Ekoteologi Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD) UIN Bukittinggi. Langkah kolaboratif ini diambil untuk memperkuat jaringan akademik internasional sekaligus merumuskan respons strategis berbasis nilai keagamaan dalam menghadapi perubahan iklim.

Kepala Pusat Hubungan Internasional UIN Bukittinggi, Dr. Irwandi, kepada RRI, Senin (15/6) menegaskan bahwa fenomena krisis lingkungan global tersebut pada hakikatnya merupakan akumulasi dari kelalaian moral manusia, rapuhnya mitigasi, serta kegagalan tata kelola lingkungan yang berkelanjutan.
Menurutnya, pandangan krusial ini mengemuka dalam kuliah umum internasional yang digelar awal Juni ini (3/6) bertajuk “High and Dry: The Devil May Care” yang digelar di Pusat Studi Ekoteologi, Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi.
Kuliah Umum tersebut menghadirkan Koen Broersma,, seorang pakar manajemen air perkotaan dan konsultan teknis senior dari Belanda. Koen Broersma hadir di Pusat Ekoteologi FUAD UIN Bukittinggi dalam rangkaian acara NICMCR Annual Meeting 2026 (Netherlands-Indonesia Consortium for Muslim-Christians Relations/NICMCR).
Sinergi antarlembaga yang melatari kehadiran pakar dunia ini mendapat dukungan penuh dari Rektor UIN Bukittinggi, Prof. Silfia Hanani. Menurutnya, kerja sama ini merupakan langkah nyata universitas dalam merespons isu-isu global melalui perspektif akademik yang multidisipliner.
"Kolaborasi antara Pusat Hubungan Internasional dan Pusat Kajian Ekoteologi FUAD ini menegaskan komitmen UIN Bukittinggi untuk tidak menjadi menara gading. Isu lingkungan adalah tanggung jawab kemanusiaan global. Dengan menggandeng pakar internasional, kita sedang membangun jembatan ilmiah untuk membumikan nilai-nilai Islam inklusif yang ramah terhadap alam," ujar Prof. Silfia Hanani.
Wajah Ganda Agama
Dalam paparannya, Broersma membedakan secara tegas antara ancaman alam (natural hazard) dan bencana alam (natural disaster). Ancaman alam seperti gempa bumi, banjir, atau kekeringan merupakan siklus bumi yang tidak terhindarkan. Namun, ancaman tersebut berubah menjadi bencana kemanusiaan yang mematikan ketika berkelindan dengan kerentanan sosial, eksploitasi sumber daya, dan lemahnya kebijakan mitigasi.
"Banyak bencana yang sesungguhnya tidak hanya disebabkan oleh alam, tetapi justru dipicu oleh keputusan politik-ekonomi dan tindakan manusia sendiri," ujar Broersma.
Broersma juga menyoroti peran sentral teologi dalam merespons krisis global. Agama, menurutnya, memiliki "wajah ganda" terhadap alam.
Di satu sisi, interpretasi keagamaan yang keliru acapkali melahirkan pandangan antroposentrisme radikal—sebuah cara pandang yang menempatkan manusia sebagai pusat semesta dan melegitimasi eksploitasi alam habis-habisan.
Namun di sisi lain, agama menyimpan fondasi etis yang kokoh untuk pemulihan lingkungan. Tradisi Islam, misalnya, memiliki konsep amanah, keseimbangan (mizan), dan keadilan sosial-ekologis yang menuntut manusia bertindak sebagai pelindung bumi.
Secara khusus, Broersma mengaitkan konsep spiritual ghaflah (kelalaian moral) dengan kekuatan institusional (institutional power). Ketika sikap abai dan tidak peduli terhadap alam diadopsi oleh pemegang kekuasaan politik dan ekonomi, dampaknya adalah kerusakan ekologis yang masif dan struktural.
Istilah “The Devil May Care” kemudian digunakan sebagai metafora atas menguatnya budaya ketidakpedulian dalam kebijakan pembangunan modern. Bagi Broersma, tantangan terbesar hari ini bukanlah kelangkaan sains atau data mengenai krisis iklim, melainkan absennya kehendak moral untuk bertindak.
Jembatan Etis dan Spiritual
Direktur Pusat Kajian Ekoteologi FUAD UIN Bukittinggi, Dr. Zulfan Taufik, menegaskan bahwa kehadiran pakar internasional sangat krusial untuk memperkaya perspektif akademisi lokal. Melalui kemitraan dengan Pusat Hubungan Internasional UIN Bukittinggi, Pusat Kajian yang dipimpinnya berkomitmen membawa diskursus ekoteologi ini ke panggung dunia.
“Persoalan lingkungan tidak cukup diselesaikan hanya dengan pendekatan teknis dan saintifik, tetapi butuh kesadaran etis dan spiritual. Dialog ini membantu kita menerjemahkan nilai teks suci secara kontekstual untuk menyembuhkan bumi yang sedang sakit,” kata Zulfan.
Melalui penguatan kolaborasi kelembagaan dan diskusi interaktif yang melibatkan dosen serta mahasiswa ini, UIN Bukittinggi berikhtiar terus menjembatani jurang antara ilmu pengetahuan dan agama.
Langkah ini diharapkan mampu mendorong lahirnya kebijakan publik dan perilaku masyarakat yang lebih adil serta bertanggung jawab terhadap kelestarian bumi.()
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....