Kecerdasan Buatan Tak Mampu Gantikan Jiwa Guru

  • 07 Jun 2026 00:01 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID,Bukittinggi — Ruang kelas masa depan tidak sedang kekurangan teknologi, melainkan sedang mempertaruhkan kemanusiaannya. Ketika kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mulai mendikte lanskap pendidikan, dunia penasihat akademis ditekankan untuk tidak sekadar adaptif, melainkan harus kokoh memegang kendali.

Substansi inilah yang mengemuka dalam Seminar Internasional The 4th International Minang Literacy Festival (IMLF-4)/Festival Literasi Minang Internasional ke-4 bertajuk "Opportunities and Challenge for Teachers in the AI Era" di Istana Bung Hatta Bukittinggi, Sabtu (6/6).

Diskusi global yang dinamis ini dipandu oleh Dr. Irwandi, dosen UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi sekaligus penggiat Literasi Falsafah Minang, yang berhasil merajut pemikiran kritis dari lima perspektif lintas negara.

Jurnalis dan penulis asal Perth, Australia, Mai White, membuka cakrawala dengan makalahnya, Integrating AI into Learning: Strategies and Challenge. Ia menegaskan posisi dasar bahwa AI sejatinya hanyalah alat (tool), bukan pengganti nakhoda pembelajar.

Namun, alat ini hanya akan berdaya guna jika didukung oleh kebijakan pemerintah yang konkret dalam menjamin aksesibilitas fasilitas teknologi bagi seluruh lapisan masyarakat. Tanpa pemerataan akses, digitalisasi pendidikan justru akan memperlebar jurang ketimpangan sosial.

Melihat dari kacamata historis, Prof. Lisa Kuitert dari Universitas Amsterdam membedah evolusi literasi dari era kolonial hingga Generasi Z. Menurutnya, melompat ke dunia digital bukan berarti meninggalkan akar tradisi literasi fisik.

"Meski kini zaman digital, generasi Z tetap harus didorong untuk mendatangi perpustakaan, membaca, dan menulis secara konvensional," tegas Prof. Lisa.

Sebab, kedalaman berpikir hanya lahir dari proses membaca yang tekun, sesuatu yang sering kali tergerus oleh budaya instan layar gawai.

Sisi keterbatasan AI dikuliti lebih dalam oleh Lucilla Trapazono, seorang penulis dan penerjemah dari Swiss. Dari sudut pandang linguistik dan sastra, Lucilla idiomatis mengingatkan bahwa AI sejauh ini hanya mampu menerjemahkan teks kata demi kata secara mekanis.

Mesin pintar tersebut sama sekali tidak memiliki kapasitas untuk menggali kedalaman perasaan, menangkap metafora, atau memahami nuansa kebudayaan yang melatari sebuah bahasa manusia.

Melanjutkan esensi tersebut, Dr. Ganjar Harimansyah dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI, memetakan proyeksi masa depan terkait peran guru dan bahasa manusia versus AI. AI boleh saja menguasai data, tetapi komunikasi insani yang persuasif dan empatik tetap menjadi domain mutlak manusia.

Sebagai puncak konklusi yang mengunci seluruh substansi, Rektor UIN Bukittinggi, Prof. Silfia Hanani, membedah dimensi yang paling krusial: resiliensi mental guru. Di tengah kecemasan global bahwa profesi pendidik akan tergilas zaman, Prof. Silfia meniupkan optimisme yang membakar semangat.

"Guru jangan pernah merasa terpinggirkan oleh kehadiran AI. Mesin itu tidak memiliki rasa dan tidak akan pernah mampu membina akhlak anak didik," ujarnya lugas.

Bagi Prof. Silfia, ketahanan psikologis guru harus digeser dari rasa terancam menjadi kesadaran penuh akan nilai eksklusif mereka sebagai kompas moral—sebuah wilayah sakral yang selamanya tertutup bagi algoritma.

Melalui diskusi panjang tersebut, IMLF-4 berhasil merumuskan cetak biru peluang dan tantangan guru di era kecerdasan buatan ke dalam lima dimensi utama: dimensi kebijakan pemerintah (pemerataan akses teknologi), dimensi kompetensi guru, dimensi sosial, dimensi budaya, serta dimensi psikologis. Seminar ini mengirimkan pesan kuat ke seluruh dunia: di era puncaknya teknologi, esensi pendidikan tetaplah sentuhan antar-manusia.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....