UIN Bukittinggi Rintis Kolaborasi Global Bahas Krisis Lingkungan
- 03 Jun 2026 07:31 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID,Bukittinggi - Krisis lingkungan global saat ini bukan lagi sekadar urusan teknis dan sains. Isu ini telah bergeser menjadi panggilan iman yang mendesak bagi lintas agama.
Merespons tantangan tersebut, Annual Meeting of Netherlands-Indonesia Consortium for Muslim-Christian Relations (NICMCR) resmi digelar di Kampus UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Sumatera Barat Rabu-Kamis (3-4/6).

Forum internasional ini mempertemukan akademisi Belanda dan Indonesia untuk menjadikan ekologi sebagai titik temu iman demi keselamatan bumi.
Rektor UIN Bukittinggi, Prof. Silfia Hanani, menyampaikan apresiasinya langsung dari Madinah Al-Munawwarah. Lewat sambungan internasional, ia menegaskan bahwa institusi keagamaan memikul tanggung jawab moral terbesar dalam menjaga kelestarian bumi melalui kolaborasi global.
Menggali Teologi dan Tradisi Nusantara
Kepala Pusat Hubungan Internasional UIN Bukittinggi, Dr. Irwandi, kepada RRI menyampaikan hari pertama workshop langsung berjalan dinamis dengan membedah paradigma teologis dan kultural melalui tiga riset utama:
- Ekoteologi dan Seni: Peneliti M. Rhaka Katresna memaparkan risetnya di Garut. Ia menekankan bahwa tanah memiliki "kehendak" ekologisnya sendiri. Melalui pendekatan berbasis seni, Rhaka mengajak masyarakat membangun empati fisik dan emosional untuk melindungi ruang hidup dari eksploitasi.
- Kosmologi Santri: Whayu Widodo mengulas genealogi intelektual Muslim-Jawa (Santri Lělana). Menurutnya, tradisi pengembaraan santri masa lalu bukan sekadar menghafal teks, melainkan sebuah laku ekosofi —membaca ayat-ayat Tuhan yang terhampar di alam semesta.
- Keadilan Iklim Kontemporer: Haryani Saptaningtyas mengkritik sains modern yang kerap mengabaikan masyarakat bawah dalam mitigasi bencana iklim. Ia menawarkan konsep knowledge coproduction, di mana sains harus duduk setara dengan teologi lokal dan strategi adaptasi warga di tingkat tapak.
Pertemuan multidisiplin ini menegaskan sebuah manifesto penting dari ranah Minang bahwa merawat bumi adalah bagian integral dari tauhid dan keimanan yang tidak bisa dipisahkan dari kebudayaan.()
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....