Sasar Pelajar Pemko Payakumbuh Bangun Budaya Siaga Bencana
- 17 Jun 2026 09:03 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Payakumbuh – Pemerintah Kota Payakumbuh memperkuat mitigasi risiko bencana berbasis lingkungan sekolah dengan membekali ratusan pelajar keterampilan kesiapsiagaan darurat. Langkah strategis lewat Sosialisasi Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) Kebencanaan ini digelar di Aula Peternakan Provinsi Sumatera Barat, Senin, 15 Juni 2026.
Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan SDM Erizon saat membacakan arahan Wali Kota Zulmaeta menyampaikan bahwa sekolah memegang peranan vital dalam melahirkan generasi yang adaptif terhadap potensi bencana. Edukasi taktis ini sengaja menyasar kelompok remaja usia sekolah agar mereka memiliki ketahanan fisik dan mental saat menghadapi situasi kritis.
“Edukasi bencana bukan lagi sekadar pengetahuan pelengkap, melainkan keterampilan hidup yang wajib dimiliki oleh generasi muda kita saat ini,” kata Erizon di hadapan perwakilan siswa SMA dan madrasah se-Kota Payakumbuh.
Erizon menambahkan, para siswa diproyeksikan menjadi penyambung lidah pemerintah dalam menularkan literasi kebencanaan ke ranah domestik. Pola getok tular dari tingkat remaja ini dinilai jauh lebih efektif untuk menumbuhkan kesadaran kolektif yang kokoh di tengah lingkungan masyarakat.
“Pelajar dapat menjadi penghubung penyebaran informasi mitigasi ke lingkungan keluarga dan masyarakat. Ketika pemahaman ini dimiliki sejak dini, maka budaya siaga bencana akan tumbuh lebih kuat di tengah masyarakat,” ujarnya memaparkan agen perubahan.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kota Payakumbuh Devitra menegaskan bahwa penguasaan pemetaan terhadap kerawanan wilayah merupakan modal utama dalam mereduksi dampak kerugian fatal. Oleh karena itu, sinergi dengan instansi vertikal kedinasan terus diintensifkan guna menyamakan persepsi mitigasi secara menyeluruh.
“Semakin baik masyarakat memahami risiko yang ada di lingkungannya, maka semakin besar peluang untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan saat bencana terjadi,” tutur Devitra menjelaskan urgensi deteksi dini.
Senada dengan itu, Komandan Pos Basarnas Kabupaten Lima Puluh Kota Roni Nur turut menggembleng para siswa dengan simulasi teknik evakuasi mandiri pascabencana. Hal tersebut dinilai sangat mendasar mengingat kedatangan tim penyelamat profesional ke lokasi terdampak kerap membutuhkan waktu akibat kendala aksesibilitas.
“Detik-detik pertama setelah bencana sering menjadi penentu keselamatan. Karena itu, kemampuan melakukan penyelamatan diri harus dipahami dan dilatih sejak usia sekolah,” pungkas Roni Nur menutup sesi pembekalan materi. (AAD/YPA)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....