Kisah Heroik Dua Petugas, Emban Empat Peran di PDG 4
- 08 Jun 2026 17:23 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID,Bukittinggi - Di tengah lautan manusia yang bergerak menuju Masjidil Haram, ponsel Arrayan dan Hamid Muhakam hampir tak pernah berhenti berdering. Mereka adalah dua petugas yang mendampingi jemaah kloter 04 Embarkasi Padang (PDG 04).
Situasi seperti itu nyaris menjadi rutinitas setiap hari selama musim haji. Bedanya, tugas tersebut biasanya ditangani 4 petugas kloter. Namun di Kloter 4, sebagian beban itu harus dipikul oleh dua petugas inti yang menjalankan banyak peran sekaligus.
Satu ketua kloter dan satu tenaga kesehatan. Tidak ada dokter. Tidak ada pembimbing ibadah. Meski demikian, mereka tetap harus memastikan 387 jemaah dapat menjalankan ibadah dengan baik hingga kembali ke Tanah Air.
“Qadarullah, sebelum berangkat ternyata hanya berdua petugas kloter. Saya sebagai tenaga kesehatan kloter ditambah satu ketua kloter. Di kloter kami tidak ada dokter, jadi saya harus merangkap sebagai dokter,” cerita Arrayan saat mendarat di BIM tadi malam.
Tak hanya itu, ia juga harus membantu berbagai kebutuhan pembinaan ibadah jemaah dibantu satu petugas KBIHU (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah).
“Pada saat bimbingan ibadah jemaah, kadang kita membimbing tawaf, sa’i dan kegiatan lainnya. Kita dituntut serba bisa untuk melayani jamaah,” katanya, Minggu, 7 Juni 2026 malam.
Kondisi tersebut bermula menjelang keberangkatan ke Tanah Suci. Dokter kloter yang semula ditugaskan tidak dapat berangkat karena alasan kedinasan. Sementara pembimbing ibadah kloter harus menjalani perawatan akibat sakit.
Cobaan itu tidak berhenti di sana. Ketika rombongan sudah berada di Madinah, kabar duka datang dari tanah air. Pembimbing ibadah yang sebelumnya dirawat dinyatakan meninggal dunia di Bengkulu.
“Ketika kami sudah sampai di Madinah, qadarullah beliau meninggal dunia di Bengkulu,” tutur Ketua Kloter 4, Hamid Muhakam.
Situasi tersebut membuat Hamid dan Arrayan harus bekerja lebih keras dari biasanya. Dengan jumlah jemaah mencapai 387 orang yang terbagi dalam 10 rombongan, hampir setiap persoalan bermuara kepada petugas kloter.
Mulai dari urusan kesehatan, kamar, listrik, kunci, hingga berbagai kebutuhan jemaah selama berada di Tanah Suci. “Ketua kloter itu seperti kepala rumah tangga,” kata Hamid.
“Mau masalah listrik, masalah kunci, masalah kamar mandi, sampai persoalan-persoalan lain. Tetapi alhamdulillah semuanya bisa diselesaikan bersama-sama.”
Beruntung, mereka tidak bekerja sendirian. Hamid menyebut para ketua rombongan dan ketua regu menjadi kekuatan utama yang membantu pelayanan jemaah di lapangan.
Di tengah keterbatasan petugas, para Karom dan Karu menjadi perpanjangan tangan yang memastikan informasi dan pelayanan tetap menjangkau seluruh jemaah.
“Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada ketua rombongan dan ketua regu. Mereka luar biasa. Kami sama-sama bahu-membahu menyelesaikan berbagai persoalan,” ujarnya.
Bagi Arrayan, tantangan terberat muncul setelah fase Armuzna. Saat itu banyak jemaah mengalami gangguan kesehatan akibat kelelahan dan perubahan cuaca.
Sementara jumlah tenaga kesehatan dan ketersediaan obat juga sangat terbatas. “Semua membutuhkan pelayanan. Semua ingin dilayani. Sedangkan kami memiliki keterbatasan tenaga dan obat-obatan,” katanya.
Namun justru dalam situasi seperti itulah ia merasakan banyak pertolongan yang sulit dijelaskan dengan logika. Menurutnya, banyak urusan yang terasa dimudahkan ketika dijalani dengan ikhlas.
“Secara hitung-hitungan sebenarnya sangat berat. Tetapi karena niatnya ibadah, alhamdulillah semua bisa berjalan lancar sampai hari ini,” ujarnya.
Hamid juga memiliki pengalaman yang tak terlupakan. Saat mendampingi jemaah lansia pengguna kursi roda melaksanakan umrah wajib, ia merasakan kemudahan yang menurutnya sulit dijelaskan.
“Saat mendekati Ka’bah rasanya seperti diberi jalan. Seakan-akan suasananya sangat lapang sehingga jemaah yang kami dampingi bisa beribadah dengan nyaman,” kenangnya.
Sementara Arrayan menyimpan kenangan lain yang lebih membekas. Ketika mendampingi proses pemulasaraan seorang jemaah yang wafat di Madinah, ia dan rekannya mendapatkan kesempatan yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
“Kami kemudian dipanggil petugas untuk masuk dan salat di Raudhah pada saf paling depan,” ujarnya.
Di tempat yang menjadi impian jutaan umat Islam itu, ia memanjatkan doa sederhana. Bukan meminta kemudahan untuk dirinya sendiri.
Melainkan memohon agar seluruh jemaah yang menjadi tanggung jawab mereka diberi kesehatan, keselamatan, dan dapat kembali ke Tanah Air tanpa kurang satu apa pun.
Doa itu kini telah terjawab.
Setelah lebih dari 40 hari bertugas, Hamid dan Arrayan akhirnya mengantar Kloter 4 kembali ke Indonesia. Di balik kepulangan itu, tersimpan kisah tentang keterbatasan yang tidak menghentikan pengabdian. Tentang petugas yang harus menjalankan banyak peran sekaligus. Humas
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....