Tradisi Babako-Babaki, Wujud Kasih Sayang Keluarga Ayah

  • 10 Jun 2026 07:51 WIB
  •  Bukittinggi

RRI,CO.ID, Solok Selatan – Tradisi Babako-Babaki masih menjadi bagian penting dalam rangkaian prosesi pernikahan adat Minangkabau. Tradisi ini merupakan bentuk perhatian, kasih sayang, dan tanggung jawab keluarga dari pihak ayah terhadap anak perempuan yang akan melangsungkan pernikahan.

Dalam masyarakat Minangkabau, pihak bako merujuk kepada seluruh keluarga dari garis ayah. Sementara anak yang lahir dari seorang ayah Minangkabau dan ibu yang berasal dari suku tertentu dikenal dengan sebutan anak pusako, anak pisang, atau anak ujung emas.

Meskipun sistem kekerabatan Minangkabau menganut pola matrilineal yang menempatkan garis keturunan pada pihak ibu, keluarga ayah tetap memiliki peran penting dalam beberapa tahapan kehidupan anak pusako.

Menurut adat Minangkabau, terdapat empat peristiwa penting yang menjadi tanggung jawab pihak bako, yakni saat turun mandi atau pemotongan rambut setelah kelahiran, prosesi pernikahan, pengangkatan penghulu bagi laki-laki, serta saat kematian.

Pada prosesi pernikahan, tradisi Babako-Babaki dilaksanakan beberapa hari sebelum akad nikah. Dalam pelaksanaannya, rombongan keluarga ayah datang ke rumah calon mempelai wanita dengan membawa berbagai hantaran sebagai simbol dukungan dan kasih sayang kepada anak pusako yang akan memasuki kehidupan berumah tangga.

Di sejumlah daerah, tradisi ini sering dilaksanakan bersamaan dengan malam bainai untuk menghemat waktu dan biaya pelaksanaan pesta adat. Sebelum acara berlangsung, calon mempelai wanita biasanya dijemput oleh keluarga bako dan dibawa ke rumah keluarga ayah untuk bermalam. Pada kesempatan tersebut, para tetua keluarga memberikan petuah, nasihat, serta bekal kehidupan rumah tangga kepada calon pengantin.

Prosesi Babako-Babaki juga dimeriahkan dengan arak-arakan adat yang mengiringi calon pengantin wanita kembali ke rumah keluarga ibunya. Rombongan terdiri atas ninik mamak, kerabat, dan para perempuan yang menjunjung berbagai hantaran. Di beberapa daerah, arak-arakan turut diiringi musik tradisional yang menambah semarak suasana.

Berbagai hantaran yang dibawa oleh pihak bako memiliki makna simbolis dan nilai adat yang tinggi. Hantaran tersebut antara lain berupa sirih lengkap dalam carano sebagai simbol penghormatan adat, nasi kuning dan singgang ayam sebagai hidangan adat, pakaian, selimut, perhiasan emas, hingga bahan kebutuhan pesta seperti beras, kelapa, ayam, maupun kerbau untuk disembelih. Selain itu, terdapat pula berbagai makanan dan kue tradisional yang disajikan untuk para tamu.

Pada masa lalu, pihak bako juga membawa bibit tanaman sebagai simbol bekal ekonomi bagi pasangan pengantin dalam membangun kehidupan rumah tangga. Tradisi ini mencerminkan harapan agar pasangan yang menikah dapat hidup mandiri, sejahtera, dan berkecukupan.

Kedatangan rombongan bako disambut meriah oleh keluarga pihak ibu. Penyambutan biasanya diawali dengan pertunjukan Tari Gelombang di halaman rumah, kemudian dilanjutkan dengan jamuan makan bersama serta rangkaian acara adat lainnya.

Hingga kini, tradisi Babako-Babaki tetap dilestarikan sebagai salah satu warisan budaya Minangkabau yang sarat makna. Selain memperkuat hubungan kekeluargaan antara pihak ayah dan anak pusako, tradisi ini juga menjadi simbol kebersamaan, penghormatan terhadap adat, serta bentuk dukungan keluarga dalam mengawali kehidupan rumah tangga pasangan pengantin. (ER/YPA)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....