Angklung Geblug: Irama Spiritual di Puncak Kasepuhan Ciptagelar

  • 09 Jun 2026 11:51 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, SUKABUMI – Di Kasepuhan Ciptagelar, sebuah kampung adat yang terletak di kawasan Gunung Halimun, kesenian bukan sekadar hiburan semata. Salah satu warisan budaya yang paling sakral dan tetap terjaga hingga saat ini adalah Angklung Gebug. Kesenian ini merupakan cerminan harmoni masyarakat adat dalam menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Menggugah Semesta dengan Irama Bambu

Berbeda dengan angklung pada umumnya yang dimainkan dengan cara digoyangkan, angklung gebug dimainkan dengan cara dipukul menggunakan alat pemukul khusus. Irama yang dihasilkan dari alat musik bambu ini memiliki karakteristik yang ritmis, kuat, dan penuh penekanan, yang sering kali digunakan dalam ritual-ritual adat yang berkaitan dengan pertanian dan siklus kehidupan.

Bagi masyarakat Kasepuhan Ciptagelar, angklung gebug adalah sarana komunikasi spiritual. Masyarakat setempat meyakini bahwa suara yang dihasilkan dari bambu-bambu pilihan tersebut mampu menyatu dengan deru angin pegunungan dan menjadi doa yang sampai ke langit. Dalam setiap dentumannya, terkandung pesan rasa syukur atas keberhasilan panen serta harapan agar kesuburan tanah tetap terjaga di musim-musim mendatang.

Tradisi yang Hidup dalam Geopark Ciletuh

Sebagai bagian integral dari komunitas adat yang berada dalam kawasan Geopark Ciletuh-Palabuhanratu, kesenian angklung gebug kini juga menjadi representasi kekayaan budaya yang membanggakan di mata dunia. Keterlibatan Kasepuhan Ciptagelar dalam jaringan geopark ini tidak hanya menonjolkan aspek keindahan bentang alam, tetapi juga menunjukkan bagaimana masyarakat adat mampu mempertahankan identitas budayanya di tengah kawasan warisan geologi dunia.

Pagelaran angklung gebug biasanya dilakukan pada waktu-waktu khusus, seperti perayaan pasca-panen atau dalam upacara adat penyambutan tamu kehormatan. Wisatawan yang beruntung menyaksikan pertunjukan ini akan merasakan atmosfer yang sangat magis; perpaduan antara udara dingin pegunungan Halimun, kepulan asap dapur tradisional, dan dentuman angklung yang menggetarkan sukma.

Menjaga Denyut Nadi Kebudayaan

Pelestarian angklung gebug di Kasepuhan Ciptagelar menjadi teladan bagaimana sebuah komunitas menjaga "denyut nadi" kebudayaannya agar tidak pudar ditelan zaman. Generasi muda di kampung adat ini sejak dini sudah dikenalkan dengan teknik memukul dan filosofi di balik setiap nada angklung gebug. Hal ini memastikan bahwa warisan leluhur tersebut akan terus bergema melintasi generasi.

Bagi Anda yang berkunjung ke kawasan Geopark Ciletuh, menyaksikan angklung gebug di Ciptagelar adalah perjalanan batin yang tak terlupakan. Ini bukan hanya soal menikmati musik tradisional, tetapi tentang memahami esensi kehidupan masyarakat yang percaya bahwa setiap harmoni irama bambu adalah wujud syukur kepada semesta yang telah menghidupi mereka selama ratusan tahun

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....