Tradisi Mananti Bali, dan Maanta Bali Sungai Pagu

  • 10 Jun 2026 07:50 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO. ID, Solok Selatan – Tradisi Mananti Bali atau Maanta Bali masih menjadi bagian penting dalam rangkaian prosesi pernikahan adat Minangkabau di wilayah Sungai Pagu, Kabupaten Solok Selatan. Tradisi ini mencerminkan tanggung jawab keluarga calon pengantin pria dalam membantu memenuhi kebutuhan pelaksanaan pesta pernikahan pihak calon mempelai wanita.

Dalam adat Sungai Pagu, terdapat dua istilah yang digunakan untuk prosesi tersebut, yakni Mananti Bali dan Maanta Bali. Mananti Bali dilaksanakan di kediaman calon pengantin wanita, sedangkan Maanta Bali diawali dari rumah calon pengantin pria menuju rumah keluarga calon mempelai wanita.

Pada prosesi ini, rombongan keluarga atau utusan dari pihak calon pengantin pria datang secara beriringan sambil membawa berbagai hantaran berupa bahan kebutuhan pokok yang akan digunakan dalam pelaksanaan pesta pernikahan. Hantaran tersebut dijunjung dan diantarkan langsung ke rumah calon pengantin wanita sebagai simbol dukungan serta tanggung jawab keluarga laki-laki.

Berbagai perlengkapan yang dibawa dalam hantaran umumnya terdiri atas beras, gula, telur, minyak kelapa, pisang, sirih, pinang, serta sejumlah uang yang telah disepakati oleh kedua belah pihak keluarga. Selain itu, terdapat pula hantaran khusus yang disiapkan oleh pihak bako atau keluarga dari garis ayah calon pengantin pria.

Hantaran istimewa dari pihak bako memiliki makna simbolis yang mendalam. Beberapa di antaranya berupa sebutir tunas kelapa, pisang raja, kacang panjang, telur bebek, serta sirih dan pinang lengkap. Setiap perlengkapan tersebut melambangkan harapan akan kehidupan rumah tangga yang harmonis, sejahtera, dan berkelanjutan bagi kedua mempelai.

Bagi masyarakat Sungai Pagu, tradisi Mananti Bali dan Maanta Bali tidak hanya menjadi bagian dari prosesi adat, tetapi juga sarana mempererat hubungan kekeluargaan antara kedua belah pihak. Tradisi ini sekaligus menunjukkan nilai gotong royong, tanggung jawab, dan kebersamaan yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Hingga kini, masyarakat adat Sungai Pagu terus mempertahankan pelaksanaan tradisi tersebut sebagai bagian dari identitas budaya lokal. Keberadaannya menjadi salah satu kekayaan budaya Minangkabau yang mencerminkan kuatnya nilai adat dalam kehidupan masyarakat. (ER/YPA)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....