Tradisi Maratuih Hari, Wujud Doa untuk Almarhum
- 08 Jun 2026 10:53 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Pariaman - Masyarakat Pariaman masih mempertahankan tradisi maratuih hari atau peringatan 100 hari setelah anggota keluarga meninggal dunia. Tradisi ini menjadi salah satu bentuk penghormatan sekaligus doa bersama yang ditujukan kepada almarhum agar memperoleh ampunan dan keselamatan di sisi Allah SWT.
Dalam pelaksanaannya, keluarga yang berduka mengundang pemuka agama, tetangga, serta sanak saudara untuk mengikuti prosesi mandoa atau pembacaan doa bersama. Kegiatan tersebut dipimpin oleh urang siak atau labai yang memanjatkan doa bagi almarhum.
Selain pembacaan doa, tradisi maratuih hari juga identik dengan malamang, yakni kegiatan memasak lemang yang terbuat dari beras ketan dan santan di dalam bambu. Pada peringatan 100 hari, jumlah lemang yang dibuat biasanya lebih banyak dibandingkan peringatan tujuh hari maupun 40 hari.
Lemang yang telah dimasak kemudian dibagikan kepada tuo kampuang, labai, keluarga, serta tamu yang hadir sebagai bentuk kebersamaan dan penghormatan kepada almarhum.
Di sejumlah daerah di Kabupaten Padang Pariaman, rangkaian acara pada malam hari turut diisi dengan kesenian bernuansa Islam seperti badikie, ratik tagak, dan bakayaik. Kesenian tersebut menjadi media dakwah sekaligus sarana mempererat hubungan sosial masyarakat.
Tradisi maratuih hari tidak hanya menjadi momen untuk mendoakan anggota keluarga yang telah wafat, tetapi juga memperkuat nilai gotong royong, silaturahmi, serta pelestarian budaya dan tradisi keagamaan yang telah diwariskan secara turun-temurun di tengah masyarakat Pariaman. (ER)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....