Pulau Weh, "Kekayaan Adat dan Tradisi Bernafaskan Islam"

  • 11 Jun 2026 20:25 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Bukittinggi – Pulau Weh tidak hanya diberkahi dengan panorama samudra yang memikat mata. Di balik keindahan alamnya, masyarakat di ujung barat Indonesia ini merawat erat warisan budaya yang adiluhung. Kehidupan sehari-hari warga Kota Sabang dan sekitarnya berjalan selaras dengan nilai-nilai Islam dan adat istiadat leluhur, menciptakan harmoni kultural yang masih terjaga kuat hingga saat ini.

Jika Anda berkunjung ke sana, bersiaplah untuk terpukau oleh lima tradisi dan budaya khas Aceh berikut ini :

1. Pesan Moral dalam Alunan Tari Ratoh Duek dan Seudati

Musik dan tari tradisional merupakan bagian tak terpisahkan dari denyut nadi masyarakat Sabang. Tari-tarian legendaris seperti Tari Ratoh Duek dan Tari Seudati kerap dipentaskan dalam berbagai momen penting, mulai dari upacara resmi pemerintahan hingga pesta pernikahan.

Dengan iringan instrumen musik tradisional seperti seruling dan tabuhan gendang, gerakan para penari tidak hanya berfungsi sebagai hiburan. Lebih dari itu, setiap pakem gerakan dan syair yang dilantunkan merupakan media bernilai tinggi untuk menyampaikan pesan moral serta nilai-nilai luhur budaya Aceh.

Tari Ratoh Duek

2. Upacara Adat Peusijuek: Ritual "Mendinginkan" dan Memohon Berkah

Salah satu tradisi yang paling sering ditemui dalam siklus kehidupan masyarakat adalah Peusijuek. Secara harfiah, kata "sijuek" dalam bahasa Aceh berarti dingin. Oleh karena itu, Peusijuek dimaknai sebagai ritual untuk "menyejukkan", menyucikan, atau memberkati suatu peristiwa.

Ritual pemberian berkah dan doa keselamatan ini biasa digelar saat momen-momen penting, seperti pernikahan, kelahiran anak, hingga ketika seseorang hendak memulai usaha atau membangun rumah baru. Tradisi ini menjadi wujud nyata rasa syukur sekaligus permohonan perlindungan kepada Tuhan YME.

3. Khanduri Blang, Bentuk Solidaritas Petani Menjelang Musim Tanam

Bagi masyarakat yang mengelola sektor pertanian, tradisi Khanduri Blang (kenduri sawah) adalah agenda wajib yang pantang dilewatkan. Ritual turun-temurun ini merupakan acara syukuran, doa, dan makan bersama yang digelar oleh para petani tepat sebelum musim tanam dimulai.

Jika dahulu kegiatan ini hanya berlangsung setahun sekali, kini Khanduri Blang diadakan dua kali dalam setahun mengikuti perkembangan musim tanam modern. Melalui kenduri ini, para petani bermunajat bersama agar sawah mereka diberkahi hasil panen yang melimpah dan terhindar dari ancaman serangan hama.

4. Meugang : Tradisi Merajut Kebersamaan Menjelang Hari Raya

Suasana kebersamaan akan terasa sangat kental di Pulau Weh saat mendekati hari raya Idul Fitri maupun Idul Adha melalui tradisi Meugang. Ini adalah momen di mana masyarakat melakukan pemotongan hewan ternak, biasanya berupa sapi atau kerbau.

Daging tersebut kemudian dimasak dan diolah untuk dinikmati bersama keluarga besar, tetangga, hingga disedekahkan kepada kaum dhuafa yang membutuhkan. Meugang bukan sekadar pesta makan bersama, melainkan simbol spiritualitas, rasa syukur, dan penguat tali solidaritas sosial antar warga.

Upaya pelestarian kebudayaan bernapas Islam ini terus diturunkan kepada generasi muda di Pulau Weh, memastikan bahwa identitas dan kearifan lokal tanah Serambi Mekah tetap lestari melintasi zaman. (NAS/YPA)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....