Perjalanan Spritual Umat Islam ke Tanah Suci
- 28 Apr 2026 08:06 WIB
- Bukittinggi
Berikut adalah versi naskah berita yang telah dirapikan sesuai kaidah jurnalistik, menggunakan format waktu Selasa, 28 April 2026, dan tanpa penggunaan huruf tebal (bold):
Ibadah Haji: Perjalanan Fisik dan Batin Menuju Ketakwaan dan Kesetaraan
RRI.CO.ID, Bukittinggi – Ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim yang memenuhi syarat mampu, baik secara fisik, mental, maupun finansial. Sebagai ibadah yang penuh makna, setiap tahunnya jutaan umat Islam dari seluruh penjuru dunia berkumpul di tanah suci Mekah, Arab Saudi, untuk menunaikan panggilan Allah SWT.
Rangkaian ibadah haji dilaksanakan pada bulan Dzulhijjah, dengan puncaknya pada tanggal 9 Dzulhijjah saat pelaksanaan wukuf di Arafah. Wukuf sendiri merupakan inti dari ibadah haji, di mana para jemaah berdiam diri, berdoa, dan memohon ampunan di hamparan padang Arafah.
Rangkaian ibadah ini dimulai dengan niat ihram dari titik miqat yang telah ditentukan. Setelah itu, jemaah melanjutkan prosesi dengan thawaf mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali, sa’i atau lari-lari kecil antara Bukit Shafa dan Marwah, serta tahallul atau mencukur rambut. Selain prosesi tersebut, jemaah juga diwajibkan melakukan mabit atau bermalam di Muzdalifah dan Mina, serta melontar jumrah sebagai simbol perlawanan terhadap godaan setan.
Di balik rangkaian fisiknya, ibadah haji mengandung hikmah mendalam mengenai kesabaran, keikhlasan, dan persaudaraan universal. Melalui pakaian ihram yang serba putih dan sederhana, haji mengajarkan kesetaraan total di hadapan Sang Pencipta tanpa memandang perbedaan suku, bangsa, maupun status sosial.
Di Indonesia, antusiasme masyarakat untuk menunaikan ibadah haji tetap berada pada level yang sangat tinggi. Kondisi ini menyebabkan daftar tunggu keberangkatan di berbagai daerah mencapai belasan hingga puluhan tahun. Menanggapi hal tersebut, Pemerintah melalui Kementerian Agama terus berupaya melakukan inovasi dan peningkatan pelayanan guna memastikan jemaah dapat beribadah dengan aman, nyaman, serta mendapatkan predikat haji yang mabrur.
Ibadah haji bukan sekadar perjalanan geografis ke tanah suci, melainkan sebuah transformasi batin yang mendalam. Setiap jemaah yang kembali diharapkan mampu menjadi pribadi yang lebih baik, lebih peduli pada sesama, dan membawa perubahan positif bagi lingkungan sekitarnya sekembalinya ke tanah air.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....