Nilai Tukar Rupiah Sentuh Rp17.300, DPR: Alarm Stabilitas Ekonomi Nasional

  • 26 Apr 2026 08:28 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Komisi XI DPR RI terus menyoroti, nilai tukar rupiah yang sudah menyentuh level Rp17.300 per dolar AS.
  • Anggota Komisi XI DPR RI, Bertu Merlas meminta, pemerintah segera mengambil langkah konkret guna menjaga daya beli masyarakat
  • Risiko ketidakstabilan sosial ekonomi akan semakin terbuka lebar.

RRI.CO.ID, Jakarta - Komisi XI DPR RI terus menyoroti, nilai tukar rupiah yang sudah menyentuh level Rp17.300 per dolar AS. Melemahnya rupiah terhadap dolar AS itu, harus menjadi alarm bahaya bagi stabilitas ekonomi nasional.

Anggota Komisi XI DPR RI, Bertu Merlas meminta, pemerintah segera mengambil langkah konkret guna menjaga daya beli masyarakat. Sekaligus, meredam potensi inflasi yang dipicu oleh pelemahan mata uang rupiah.

“Kondisi rupiah saat ini harus menjadi alarm bagi pemerintah. Pelemahan ini berdampak langsung pada kenaikan harga barang impor dan biaya produksi," kata Bertu dalam keterangan persnya, di Jakarta, Minggu, 26 April 2026.

Jika harga barang naik sementara pendapatan masyarakat stagnan, ia menegaskan, daya beli akan terpuruk. Mengingat, pelemahan rupiah akan menciptakan efek domino.

"Berupa kenaikan biaya produksi bagi industri yang bergantung pada bahan baku impor. Jika tidak dimitigasi dengan cepat, beban biaya ini akan dialihkan kepada konsumen melalui kenaikan harga barang," ucap Bertu.

Kemudian, ia menekankan, pemerintah tidak boleh membiarkan inflasi lepas kendali. Karena, inflasi yang tinggi di tengah pelemahan rupiah akan memperparah beban hidup kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.

“Risiko ketidakstabilan sosial ekonomi akan semakin terbuka lebar. Jika, tanpa intervensi pemerintah untuk menstabilkan harga kebutuhan pokok," ujar Bertu.

Sebelumnya, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa merespons, pelemahan nilai tukar rupiah menyentuh level Rp17.300 per dolar AS. Menurutnya, kondisi ini bukan mencerminkan memburuknya kondisi ekonomi domestik.

Menurutnya, fondasi ekonomi Indonesia masih relatif kuat dibandingkan negara lain di kawasan, seperti Malaysia dan Thailand. Ia menyebut pergerakan nilai tukar lebih dipengaruhi oleh kondisi global serta ekspektasi pasar.

“Ini bukan tanda pemburukan ekonomi domestik. Dibanding negara lain kita masih kuat,” kata Menkeu dalam media briefing, Sabtu, 25 April 2026.

Menkeu menjelaskan, dinamika nilai tukar merupakan ranah otoritas moneter. Namun, pemerintah tetap berfokus menjaga stabilitas fundamental ekonomi agar tetap tangguh menghadapi gejolak global.

Ia juga memastikan, pergerakan rupiah masih berada dalam skenario pemerintah. Bahkan, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dipastikan tetap berada di bawah ambang batas 3 persen.

“Masih masuk skenario. Jadi, masih aman,” ucap Menkeu.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....