BI Pastikan 'All Out' 24 Jam Jaga Stabilitas Nilai Tukar Rupiah

  • 13 Apr 2026 17:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti menegaskan, Bank Indonesia akan ‘all out’ menjaga stabilitas rupiah. Saat ini, BI bahkan 24 jam melakukan pemantauan terhadap pergerakan nilai tukar rupiah
  • Nilai tukar rupiah terus melemah sejak pecah perang antara AS dan Iran pada akhir Februari 2026. Berdasarkan data BI, pelemahannya hingga saat ini sekitar 1,91 persen
  • Menurut Destry, kondisi global yang memburuk akibat perang menyebabkan arus keluar modal asing dari negara emerging markets. Kondisi inilah yang membuat nilai tukar rupiah berfluktuasi dan cenderung melemah.

RRI.CO.ID, Jakarta – Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti memastikan, Bank Indonesia akan ‘all out’ menjaga stabilitas rupiah. Saat ini, BI bahkan 24 jam melakukan pemantauan terhadap pergerakan nilai tukar rupiah.

Karena BI juga melakukan pemantauan di pasar luar negeri, mulai dari Asia, Eropa dan Amerika Serikat. “Jadi kita tetap melek, kita juga mengoptimalkan keberadaan kantor perwakilan BI di luar negeri,” kata Destry dalam acara Central Banking Forum 2026 di Jakarta, Senin, 13 April 2026.

Nilai tukar rupiah terus melemah sejak pecah perang antara AS dan Iran pada akhir Februari 2026. Berdasarkan data BI, pelemahannya hingga saat ini sekitar 1,91 persen.

Namun pelemahan rupiah masih lebih rendah dibandingkan mata uang negara lainnya di kawasan. Di antaranya, Won Korea Selatan melemah 2,93 persen, Baht Thailand melemah 3,32 persen dan Peso Filipina melemah 3,85 persen.

Menurut Destry, kondisi global yang memburuk akibat perang menyebabkan arus keluar modal asing dari negara emerging markets. Kondisi inilah yang membuat nilai tukar rupiah berfluktuasi dan cenderung melemah.

BI memastikan untuk terus berada di pasar, baik di pasar spot, pasar dalam negeri (DNDF) dan pasar luar negeri (NDF). “Dari BI kita akan terus ‘all out’ untuk menjaga stabilitas, dan volatilitas nilai tukar akan terus kita perhatikan,” ucap Destry.

“Kita akan melakukan intervensi pasar secara terukur, ‘continue’ dan ‘timely’ atau pada saat yang tepat. Jadi kita akan berada di pasar selama 24 jam,” ujarnya.

Selain itu, BI akan menjaga likuiditas pasar dengan manargetkan ‘base money’ tidak kurang dari 10 persen. Base money merupakan jumlah uang beredar di masyarakat ditambah cadangan minimum perbankan komersil yang disimpan di BI.

Pertumbuhan base money sekarang, kata Destry, sudah di atas 12 persen, yang menunjukkan BI tetap melakukan ekspansi. Selain itu, BI bersinergi dengan pemerintah dalam melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN),

Di sisi lain, BI juga melakukan penjualan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik dana asing masuk ke dalam negeri. Penyerapan SRBI pada pekan kemarin, tercatat mencapai Rp32 triliun dengan imbal hasil naik.

Sementara itu, untuk mengurangi ketergantungan pada mata uang dolar AS, BI mendorong penggunaan transaksi dengan mata uang lokal. Local Currency Transaction (LCT) adalah transaksi antara Indonesia dengan negara lain, dengan memanfaatkan mata uang negara bersangkutan.

Saat ini Indonesia sudah menggunakan LCT dalam transaksi dengan negara Tiongkok, Jepang, Malaysia, Korea dan Thailand. “Kalau penggunaan LCT terus diperluas, karena tidak harus menggunakan dolar, maka tekanan terhadap nilai tukar rupiah bisa dikurangi,” kata Destry lagi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....