Nilai Tukar Rupiah Tembus Rp17.000, Komisi XI DPR: Harus jadi Alarm Otoritas Moneter

  • 09 Apr 2026 09:08 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Anggota Komisi XI DPR RI, Habib Idrus Salim Aljufri terus menyoroti, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS
  • Menurut politikus PKS ini, kondisi ini harus menjadi alarm serius bagi pemerintah dan otoritas moneter
  • Stabilitas nilai tukar bukan hanya persoalan teknis moneter, tetapi juga berkaitan erat kepercayaan pasar terhadap fundamental ekonomi nasional

RRI.CO.ID, Jakarta - Anggota Komisi XI DPR RI, Habib Idrus Salim Aljufri terus menyoroti, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Karena, nilai tukar rupiah sudah menembus level Rp17.000 per dolar AS.

Menurut politikus PKS ini, kondisi ini harus menjadi alarm serius bagi pemerintah dan otoritas moneter. Pemerintah dan otoritas moneter harus segera memperkuat langkah antisipatif di tengah ketidakpastian global yang kian meningkat.

"Stabilitas nilai tukar bukan hanya persoalan teknis moneter, tetapi juga berkaitan erat kepercayaan pasar terhadap fundamental ekonomi nasional. Pelemahan rupiah hingga menembus Rp17.000 per dolar AS tidak boleh dianggap sebagai hal yang biasa, harus menjadi alarm," kata Idrus dalam keterangan persnya, di Jakarta, Kamis, 9 April 2026.

Di satu siai, ia mengapresiasi, langkah Bank Indonesia (BI) mengintervensi pasar melalui berbagai instrumen operasi moneter. Namun diingatkannya, upaya menjaga stabilitas rupiah tidak bisa hanya dibebankan pada bank sentral semata.

“Ini tidak cukup, pemerintah harus hadir melalui kebijakan fiskal yang kuat, pengendalian impor, serta penguatan sektor riil. Agar, tekanan terhadap rupiah bisa diminimalisir,” ucap Idrus.

Kemudian, Idrus juga menyoroti, faktor eksternal seperti konflik geopolitik global dan dinamika harga komoditas. Kedua kondisi tersebut, diungkapkannya turut memengaruhi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

“Faktor global memang tidak bisa kita kendalikan, tetapi daya tahan ekonomi nasional ada di tangan kita sendiri. Penguatan industri dalam negeri, peningkatan ekspor bernilai tambah, dan pengurangan ketergantungan terhadap impor harus menjadi prioritas,” ujar Idrus.

Sebelumnya diberitakan, BI menyatakan, menjaga stabilitas nilai tukar rupiah tetap menjadi prioritas utama. Khususnya di tengah ketidakpastian global yang sangat tinggi seperti saat ini.

“Untuk itu, BI akan mengoptimalkan pemanfaatan seluruh instrumen operasi moneter (OM) yang dimiliki. Serta menerapkan kebijakan operasi moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar,” kata Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti sdalam pernyataan tertulisnya, Selasa, 7 April 2026

Destry menyampaikan hal tersebut, melihat perkembangan nilai tukar rupiah hari ini. Nilai tukar rupiah ditutup turun signifikan 0,41 persen atau 70 poin sehingga menembus level Rp17.105 per dolar AS.

“Untuk menstabilkan rupiah, BI secara konsisten dan terukur akan selalu berada di pasar uang. Baik di spot market, DNDF maupun NDF di offshore market,” ucap Destry.

DNDF adalah Domestic Non-Deliverable Forward, bentuk intervensi BI ke pasar dalam negeri. Sedangkan NDF atau Non-Deliverable Forward adalah bentuk intervensi BI di pasar luar negeri.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....