Nilai Tukar Rupiah Anjlok, Tembus Rp17.009 per Dolar AS

  • 09 Mar 2026 11:58 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah anjlok hingga Rp17.009 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Senin 9 Maret 2026. Ini berarti turun 84 poin atau 0,50 persen dibandingkan pada perdagangan akhir pean lalu.

Kejatuhan rupiah terjadi di tengah fluktuasi tajam yang melanda pasar keuangan global maupun domestik. Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan mata uang domestik tertekan ke level psikologis baru sementara indeks dolar melonjak tajam.

“Kita sedang mengalami rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sama-sama jatuh,” ujarnya. Saat rupiah menembus level Rp17.000, IHSG pun turun hingga 5 persen.

Menurut Ibrahim, faktor eksternal menjadi pemicu utama setelah terpilihnya Muktaba Khamenei sebagai pemimpin baru Iran. “Penunjukan sosok fundamentalis ini diprediksi akan memperpanjang konflik militer di Timur Tengah,” ujarnya.

Ibrahim menambahkan pernyataan Presiden AS, Donald Trump, terkait pergantian rezim Iran turut memicu lonjakan ketegangan internasional. Kemudian, ancaman penutupan Selat Hormuz berdampak langsung pada pengurangan produksi kilang minyak di beberapa negara Arab.

Sementara itu, harga minyak mentah dunia melonjak hingga menyentuh level US$117 per barel. Menurut Ibrahim, hal ini berpotensi memicu krisis ekonomi global seperti yang terjadi pada 2008.

Dari dalam negeri, defisit anggaran diprediksi akan membengkak hingga mencapai 3,6 persen. Ini karena harga minyak dunia telah melampaui batas asumsi normal pemerintah yaitu US$92 per barel.

“Bahwa kemungkinan besar pemerintah akan mengalami defisit anggaran itu 3,6 persen,” kata Ibrahim. Menurut dia, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa, telah menginformasikan hal itu sebelumnya.

Mayoritas mata uang di kawasan Asia juga terpantau bergerak di zona merah. Peso Filipina memimpin kemerosotan sebesar 1,09 persen disusul oleh baht Thailand yang merosot 0,86 persen.

Mata uang negara maju seperti euro dan poundsterling juga kompak melemah terhadap dolar AS. “Pelaku pasar kini terus mencermati perkembangan konflik geopolitik yang berdampak langsung pada stabilitas ekonomi nasional,” kata Ibrahim.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....