Komisi VII DPR Nilai Tren 'Dupe Culture' Peluang Emas Brand Lokal Tembus Pasar Global

  • 30 Mar 2026 12:11 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Chusnunia Chalim menilai, tren 'dupe culture' membuka peluang besar bagi brand lokal Indonesia
  • Politikus PKB ini menjelaskan, produk dupe menawarkan fungsi serupa barang premium dengan harga lebih terjangkau
  • Fenomena membeli barang dupe kini dianggap lebih cerdas dibanding memaksakan membeli barang bermerek
  • Dengan konsep amati, tiru, dan modifikasi, menurutnya, merupakan bagian dari proses belajar dalam dunia bisnis

RRI.CO.ID, Jakarta - Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Chusnunia Chalim menilai, tren 'dupe culture' membuka peluang besar bagi brand lokal Indonesia. Terlebih, fenomena 'dupe culture' ini berkembang pesat di kalangan Gen Z dan milenial melalui pengaruh media sosial.

Politikus PKB ini menjelaskan, produk dupe menawarkan fungsi serupa barang premium dengan harga lebih terjangkau. Pola konsumsi ini, mencerminkan konsumen semakin rasional dalam menilai fungsi dibanding gengsi merek.

“Fenomena membeli barang dupe kini dianggap lebih cerdas dibanding memaksakan membeli barang bermerek. Tren ini mencerminkan pergeseran cara pandang generasi muda dalam berbelanja," kata Chusnunia dalam keterangan persnya, di Jakarta, Senin, 30 Maret 2026.

Chusnunia mengungkapkan, kondisi ini dapat dimanfaatkan pelaku usaha lokal untuk meningkatkan daya saing produk. Ia menekankan, pentingnya inovasi tanpa meniru identitas atau logo merek asli.

“Produk dupe tidak menggunakan branding asli, sehingga lebih tepat disebut 'designer inspired'. Perbedaan antara tiruan ilegal dan produk inspiratif harus dipahami pelaku industri," ucapnya.

Dengan konsep amati, tiru, dan modifikasi, menurutnya, merupakan bagian dari proses belajar dalam dunia bisnis. Pendekatan tersebut sah selama menghasilkan inovasi baru, bukan sekadar menyalin karya.

“Selama menghasilkan inovasi baru, praktik ini bukan plagiasi melainkan pembelajaran industri. Strategi ini telah diterapkan banyak negara dalam membangun industri," ujarnya.

Kemudian, ia mencontohkan, Tiongkok dan Korea Selatan yang sukses mengembangkan jenama global. Kedu negara tersebut, memulai dari adaptasi produk sebelum menciptakan inovasi sendiri.

Chusnunia mengharapkan, tren ini diarahkan untuk memperkuat industri kreatif nasional seperti fesyen dan kecantikan. Peningkatan kualitas dinilai penting agar brand lokal mampu bersaing di pasar global.

“Budaya imitasi dapat memicu kreativitas brand lokal hingga berkembang menjadi brand global. Peluang ini bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh pelaku usaha Indonesia," katanya.

Selain itu, pertumbuhan brand lokal berpotensi memperkuat rantai industri dalam negeri secara menyeluruh. Dampaknya mencakup produksi bahan baku hingga efisiensi sistem manufaktur nasional.

“Jika tren ini mendorong brand lokal tumbuh, industri nasional juga akan ikut berkembang. Efek berantai ini penting bagi kemandirian ekonomi Indonesia," ucapnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....