Kasus Campak 2026 Dilaporkan Turun, Komisi IX DPR Singgung Kasus Anak Meninggal

  • 29 Mar 2026 11:02 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani mengingatkan, pemerintah tidak berpuas hati dengan laporan penurunan kasus campak Indonesia
  • Politikus PKS ini mengingatkan, angka statistik yang menggembirakan tersebut tidak boleh menutupi fakta lapangan
  • Penurunan kasus itu memang hasil kerja keras, tetapi fakta bahwa masih ada anak yang meninggal
  • Kementerian Kesehatan perlu mengevaluasi menyeluruh terhadap distribusi vaksin dan kecepatan penanganan komplikasi di puskesmas

RRI.CO.ID, Jakarta - Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani mengingatkan, pemerintah tidak berpuas hati dengan laporan penurunan kasus campak Indonesia. Kemenkes RI melaporkan, kasus campak di Indonesia turun sebesar 95 persen di awal tahun 2026.

Politikus PKS ini mengingatkan, angka statistik yang menggembirakan tersebut tidak boleh menutupi fakta lapangan. Karena, masih terdapat anak-anak yang meninggal dunia akibat komplikasi penyakit campak tersebut.

“Penurunan kasus itu memang hasil kerja keras, tetapi fakta bahwa masih ada anak yang meninggal. Menunjukkan, ada sistem yang belum tuntas, statistik bukan segalanya jika kita masih kehilangan nyawa anak-anak kita,” kata Netty dalam keterangan persnya, di Jakarta, Minggu, 29 Maret 2026.

Ia mengungkapkan, masih terdapat celah kekebalan (immunity gap) sebagai bom waktu yang harus segera ditangani secara permanen. Keberhasilan menekan jumlah kasus campak, pada dasarnya merupakan langkah darurat yang baik.

"Namun, fatalitas atau kematian adalah tanda bahwa penanganan di tingkat akar rumput masih memiliki celah besar. Satu nyawa anak Indonesia itu terlalu mahal untuk dikompensasi dengan angka persentase penurunan," ucap Netty.

Oleh karenanya, ia menuturkan, jangan pemerintah merayakan penurunan kasus campak di tengah duka masyarakat. Masyarakat di Indonesia, seharusnya mendapatkan proteksi kesehatan yang cepat dari pemerintah.

"Kementerian Kesehatan perlu mengevaluasi menyeluruh terhadap distribusi vaksin dan kecepatan penanganan komplikasi di puskesmas. Terutama di wilayah-wilayah yang sempat menjadi zona merah, kita butuh jaminan perlindungan total, bukan sekadar laporan statistik,” ujar Netty.

Sebelumnya diberitakan, Kemenkes mengonfirmasi, satu kasus suspek campak pada dokter berinisial AMW (26) di Cianjur. Hal tersebut memicu kewaspadaan penularan masyarakat luas.

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman, menyebut pasien mengalami demam, ruam merah, dan sesak napas yang semakin memburuk. “Pasien diduga mengalami penyakit campak dengan komplikasi pneumonia yang memperburuk kondisi kesehatannya,” kata Aji Muhawarman saat dikonfirmasi, Jumat, 27 Maret 2026.

Berdasarkan hasil investigasi sementara, Aji menyebut kondisi pasien terus menurun hingga akhirnya dirawat di RSUD Cimacan pada 26 Maret 2026. Ia mengatakan tim medis disebut telah memberikan penanganan sesuai standar yang berlaku.

“Tenaga medis di RSUD Cimacan telah melakukan upaya maksimal dalam penanganan pasien sesuai prosedur. Pasien dinyatakan meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif di rumah sakit,” ucapnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....