Mengenal Wor Fan Nanggi, Ritual Syukur Suku Biak
- 20 Okt 2025 03:59 WIB
- Biak
KBRN, Biak : Masyarakat adat suku Biak Papua memiliki filosofi hidup, “Nggowor baido nari nggomar.” Yang berarti “Jika kami tidak menyanyi, maka kami mati”. Filosofi ini diwariskan oleh orang tua-tua Biak, yang menggambarkan betapa nyanyian menyatu dengan kehidupan masyarakat Biak sejak dahulu. Nyanyian yang dimaksud adalah Wor, sebuah tradisi lisan yang memiliki kedudukan penting dalam budaya suku Biak.
Dalam pelaksanaannya terdapat 44 jenis wor yang dikenal suku Biak. Wor memiliki dua arti yakni sebagai upacara adat dan sebagai nyanyian adat. Wor terbagi menjadi dua kelompok, yakni upacara siklus hidup dan upacara insidentil. Tradisi Wor memuat nilai-nilai budaya yang mengatur hubungan manusia dengan pencipta, sesama, dan alam. Salah satu upacara insidentil adalah Wor Fan Nanggi.
Wor Fan Nanggi adalah upacara adat suku Biak yang merupakan bentuk ungkapan syukur dan doa kepada Tuhan atau "langit" atas hasil alam (darat dan laut). Kata "Fan" berarti makan, dan "Nanggi" berarti langit, sehingga ritual ini secara harfiah berarti "memberi makan kepada langit". Ritual ini dilakukan dengan mempersembahkan rempah-rempah dan hasil bumi atau laut sebagai wujud permohonan berkat dan pemeliharaan kehidupan.
Ritual ini merupakan ungkapan rasa syukur atas berlimpahnya hasil alam yang diberikan oleh Sang Pencipta. Tradisi ini mengajarkan nilai keseimbangan antara manusia dan alam, di mana alam akan memberi jika dijaga dan dihormati. Fan Nanggi adalah salah satu bagian dari tradisi Wor, yang merupakan inti dari kebudayaan dan kehidupan religius suku Biak. Dalam Tradisi ini, Suku Biak memohon agar Tuhan senantiasa memberikan berkat dan menjaga kelangsungan hidup masyarakatnya.
Dalam ritual ini, upacara adat tersebut dipimpin oleh seorang pemimpin upacara keagamaan yang disebut "Moon". Masyarakat mempersembahkan hasil bumi dan laut kepada langit. Dalam pelaksanaannya, setiap orang membawa peralatan kerja sesuai aktivitas mereka. Para petani membawa adaf (tongkat penanam ubi, nelayan membawa jaring dan tali pancing, pemburu membawa tombak, busur, serta panah, sedangkan penokok sagu membawa alat amau.
Peralatan ini diikutsertakan dalam upacara sebagai simbol permohonan berkat, agar pekerjaan mereka selanjutnya berhasil dan berlimpah. Selain itu, hasil kebun maupun hasil laut juga dibawa sebagai wujud syukur atas rezeki yang telah diterima. Dan ritual ini diakhiri dengan acara makan bersama sebagai simbol persaudaraan.
Bagi orang Biak, Nanggi (langit) diyakini sebagai tempat bersemayam kekuatan yang melampaui manusia. Dari sanalah datang matahari, bulan, bintang, hujan, dan angin. Keyakinan kosmologis ini menjadi dasar Wor Fan Nanggi, di mana masyarakat menyerahkan doa dan persembahan agar alam tetap memberi keberkahan.
Wor Fan Nanggi tidak hanya sebuah upacara adat, tetapi juga sebuah doa kolektif. Upacara adat ini adalah wujud syukur atas hasil alam sekaligus permohonan untuk keberlanjutan hidup. Tradisi ini mengajarkan keseimbangan: manusia tidak bisa hidup tanpa alam, dan alam hanya akan memberi jika dihormati serta dijaga.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....