Molo, Balobe, Bameti, Membingkai Pesona Biak Numfor
- 25 Feb 2025 18:08 WIB
- Biak
KBRN Biak, Bagi suku Biak Numfor, manusia adalah bagian dari alam yang harus dihormati. Tanah dan laut diibaratkan ibu atau mama yang menyediakan air susu bagi anak-anaknya, yaitu warga masyarakat yang tinggal untuk mencari penghidupan. Kalau air susu ibu itu habis dikuras, apalagi dirusak, maka mama akan mati. Saat itulah orang-orang juga banyak yang sengsara atau miskin. Karena itu, kelestarian laut sebagai sumber kehidupan mesti dijaga.Dikutid dari, Komunitas Klinik Edukasi Owi, Desa Owi, Biak Numfor.
Molo ialah menangkap ikan dengan cara menyelam di kedalaman laut dengan menggunakan kacamata molo dan dilengkapi senapan panah yang dibuat dari kayu. Molo dalam bahasa suku Biak berarti “menyelam” untuk menangkap ikan, menggunakan alat bantu berupa panah ikan atau peluru pelontar dari kawat yang ditajamkan ujungnya. Tradisi molo ini sudah berlangsung sejak lama. Secara turun-temurun tradisi ini diwariskan kepada generasi yang lebih muda. Uniknya, penyelaman dilakukan tanpa alat selam. Jadi, seberapa lama penyelaman itu berlangsung sangat bergantung pada kekuatan pernapasan nelayannya. Umumnya, penyelaman bisa menghabiskan waktu antara 2-3 jam, dengan kedalaman yang beragam, sekitar 5 – 10 meter untuk memburu tangkapannya.
Kegiatan ini biasanya dilakukan pada malam hari saat bulan tak bersinar atau lebih dikenal dengan sebutan dialek “bulan gelap”. Diyakini, dalam kondisi seperti itu kepekaan ikan jauh berkurang dan ikan akan diam, sehingga dengan mudah bisa ditangkap.
Tradisi menangkap hasil laut pola subsisten untuk kebutuhan makan sehari-hari dengan menggunakan peralatan yang sederhana oleh masyarakat Biak dan masyarakat Pulau Owi ini adalah nilai-nilai budaya dalam bentuk kearifan lokal, yang ikut membantu upaya konservasi alam, utamanya terhadap Taman Laut Nasional Teluk Cenderawasih yang sangat kaya biota lautnya. dikenal dengan tradisi molo dan balobe.
Balobe itu sendiri adalah tradisi mencari hasil laut pada malam hari pada saat bulan gelap dengan menggunakan alat tombak dari kayu. Cara menangkap ikan yang satu ini cukup unik dan khas. Hanya mengandalkan alat tangkap ikan yang tergolong kuno, yakni tombak, ditopang ketajaman insting. Tombak terbuat dari kayu, dilengkapi besi bermata tiga yang sangat tajam pada ujungnya, yang oleh masyarakat Owi disebut kalawai.
Hanya menggunakan insting nelayan sudah mengetahui waktu yang tepat dengan melihat kondisi alam. Bulan gelap menunjukkan kerumunan ikan tidak akan jauh-jauh berekspansi atau memiliki penglihatan yang terbatas sehingga ikan tampak jinak. Dibantu oleh penerang lampu petromaks, pelobe (orang yang melakukan balobe) sangat mahir menghujamkan tombak mengenai sasarannya. Dari balobe masyarakat Pulau Owi membawa pulang hasil tangkapan berupa ikan, udang lobster, teripang, dan gurita.
Bameti adalah kegiatan memungut hasil-hasil laut ketika air laut sedang surut atau dalam bahasa setempat disebut air laut sedang meti, berlangsung pada malam maupun siang hari. Biasanya, di daerah pesisir yang landai dan menjorok, ketika laut surut akan tampak kolam-kolam kecil dan batu karang.
kegiatan bameti umumnya dilakukan oleh tiap-tiap keluarga untuk mengisi waktu-waktu senggang sambil rekreasi, sekaligus dimanfaatkan sebagai ajang pertemuan dengan keluarga yang lain dalam satu kampung. Pasalnya, dalam tradisi ini kegiatan utamanya cuma memungut hasil laut ketika air laut sedang surut.
Bameti menggunakan peralatan seadanya, seperti panah dari lidi yang memanfaatkan karet gelang lalu ditembakkan, alat cungkil kerang, dan baskom/serok penangkap ikan. Umumnya warga mencari ikan karang, udang lobster yang terdampar dan beragam jenis kerang laut, serta bia/tiram. Hasil buruan akan dimakan dengan cara dibakar di tepi pantai, kalau ada sisanya baru dibawa pulang untuk dimakan sendiri atau dibagikan kepada tetangga.
Bahkan kini bameti digunakan sebagai ajang festival budaya dan pariwisata tahunan Kabupaten Biak Numfor, yang dikenal dengan Festival Munara Wampasi. Hal itu tak lepas dari keunikan tradisi bameti, sehingga saat air laut surut banyak warga berbondong-bondong ke tepi pantai menyusuri setiap karang, cekungan dan teluk yang ada di Pulau Owi. Masyarakat Pulau Owi dan suku Biak umumnya sangat percaya bahwa laut memiliki kekuatan gaib yang dapat menjadi sumber kebaikan dan kesejahteraan bagi masyarakat bila tetap menjaga keselarasan dengan "penguasa" laut. Sebaliknya, jika laut tak dijaga kelestariannya, mereka percaya akan mendapat bencana seperti gelombang tinggi, cuaca buruk, orang yang mati tenggelam atau diserang ikan hiu, serta berkurangnya hasil tangkapan ikan bagi nelayan.
Ada kawasan pulau, pantai dan laut yang disakralkan yang dijaga oleh suanggi (setan laut). Setiap orang yang melewati kawasan itu harus memberi salam dan mempersembahkan saji-sajian. Tidak boleh berbuat jahat seperti membuang sampah, berkata kotor, menangkap penyu, dan dilarang melaut kalau melihat ikan paus.
Adanya tradisi serta berbagai bentuk mitos dan simbol-simbol dari alam yang diwariskan oleh nenek moyang tersebut telah membentuk kebiasaan atau pengalaman masyarakat tentang "hari baik" beraktivitas di laut dengan memprediksi kondisi alam. Sebutlah seperti iklim, arus, gelombang, adanya migrasi burung-burung untuk menentukan lokasi kumpulan ikan, jenis ikan, penyu bertelur dan kondisi biota laut lainnya.
Bagi suku Biak Numfor, manusia adalah bagian dari alam yang harus dihormati. Tanah dan laut diibaratkan ibu atau mama yang menyediakan air susu bagi anak-anaknya, yaitu warga masyarakat yang tinggal untuk mencari penghidupan. Kalau air susu ibu itu habis dikuras, apalagi dirusak, maka mama akan mati. Saat itulah orang-orang juga banyak yang sengsara atau miskin.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....