Kenaikan Dolar Ancam Konektivitas Udara Kawasan Timur Indonesia
- 06 Jun 2026 22:00 WIB
- Biak
RRI.CO.ID, Biak -Apabila nilai tukar dolar Amerika Serikat menembus Rp18.000, maka sektor penerbangan nasional akan menghadapi tekanan yang sangat besar, khususnya pada rute-rute Indonesia Timur yang memiliki biaya operasional tinggi dan ketergantungan besar terhadap transportasi udara.
Saat ini saja, harga tiket ekonomi rute Biak–Jakarta telah berada pada kisaran Rp4,8 juta per penumpang sekali jalan. Angka tersebut tercatat sebelum adanya skenario pelemahan rupiah ke level Rp18.000 per dolar AS.
Perlu dipahami bahwa sebagian besar biaya utama maskapai dibayarkan dalam dolar AS, mulai dari leasing pesawat, suku cadang, maintenance, asuransi, hingga berbagai kontrak teknis internasional. Ketika dolar naik, biaya operasional maskapai meningkat secara otomatis.
Dengan asumsi terjadi kenaikan biaya operasional sebesar 10–15%, maka harga tiket Biak–Jakarta berpotensi meningkat menjadi:
Normal season: Rp5,3 juta – Rp6,0 juta.
Peak season: Rp6,0 juta – Rp7,5 juta.
Pada kondisi tertentu yang dipengaruhi keterbatasan kapasitas, harga tiket dapat bergerak lebih tinggi lagi.
Apabila kondisi tersebut terjadi, maka biaya perjalanan udara akan menjadi beban yang semakin berat bagi masyarakat Papua. Sebagai ilustrasi, satu keluarga dengan empat anggota yang melakukan perjalanan pulang-pergi Biak–Jakarta dapat mengeluarkan biaya tiket mencapai Rp45 juta hingga Rp60 juta, belum termasuk akomodasi dan kebutuhan lainnya.
Dampak yang lebih mengkhawatirkan sebenarnya bukan sekadar kenaikan harga tiket. Ancaman terbesar adalah menurunnya konektivitas wilayah. Ketika biaya operasional terus meningkat, maskapai akan semakin selektif dalam mempertahankan rute-rute yang dianggap kurang menguntungkan. Frekuensi penerbangan dapat berkurang dan ekspansi rute baru akan semakin sulit terealisasi.
Bagi Papua dan Indonesia Timur, transportasi udara bukanlah pilihan, melainkan kebutuhan utama. Berbeda dengan wilayah lain yang memiliki alternatif transportasi darat dan kereta api, masyarakat Papua sangat bergantung pada pesawat untuk mobilitas orang, distribusi logistik, aktivitas pemerintahan, pendidikan, kesehatan, hingga investasi.Karena itu, apabila dolar benar-benar menembus Rp18.000, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh maskapai penerbangan, tetapi juga berpotensi mempengaruhi pertumbuhan ekonomi kawasan timur Indonesia secara keseluruhan.
Kenaikan dolar hingga Rp18.000 bukan sekadar persoalan kurs. Bagi Indonesia Timur, hal tersebut dapat menjadi ujian serius terhadap keterjangkauan transportasi udara, keberlanjutan konektivitas, dan pemerataan pembangunan nasional.
Iwan Sanusi
Praktisi Aviasi
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....